Rebun-rebun subuh seperti saat ini, biasanya aku masih
berada di balik selimut yang memintal seluruh tubuh dari ujung rambut sampai
ujung jempol kaki. Tapi ajaibnya hari ini berbeda. Aku sudah duduk manis di
sebuah bus bersama enam orang lainnya yang tidak aku kenal. Jam 5 pagi
tepatnya. Aku kira, pagi buta di hari kerja seperti ini hanya aku yang
melenggang sendiri bersama supir bus dan kondekturnya. Tapi ternyata tidak.
Mungkin enam orang penumpang lainnya punya urusan penting sepertiku. Mungkin
lebih penting dari alasanku sebenarnya. Pulang.
Ya. Setahun ini aku tidak pulang ke rumahku di Garut. Hari
lebaran beserta seluruh kegiatan keluarganya aku lewatkan begitu saja. Demi
sesuatu hal yang sama sekali tak membantuku saat ini. Inilah waktuku untuk
pulang mungkin. Aku ambil jatah cutiku yang hanya 12 hari dalam setahun hanya
untuk pulang ke rumah. Teman-temanku menyangka bahwa aku akan melarikan diri
dari ruwetnya pekerjaan untuk berlibur di luar negeri. Andai saja mereka tahu
bahwa aku akan habiskan jatah cutiku yang hanya dua belas hari hari ini hanya untuk
pulang ke rumah yang sebenarnya bisa aku lakukan di setiap akhir pekan maka
mungkin mereka akan terheran-heran. Ada apa gerangan?
Namaku Ranti dan saat ini aku hanya ingin mengingat semuanya
kembali. Terperinci. Akhir-akhir ini aku seakan lupa akan masa laluku.
Orang-orang disekitarku dan pendidikan yang aku tempuh telah merubahku menjadi
pribadi yang terlalu visioner. Terlalu melihat masa depan yang belum jelas aku
alami hingga aku melupakan masa lalu yang jelas-jelas aku cicipi asam, manis,
dan pahitnya. Masa lalu yang jika aku pikir-pikir lagi merupakan masa terbaik
yang pernah terjadi dalam hidupku. Masa dimana aku masih suci.
Ya. Saat ini aku berpikir bahwa hati dan raga ini sudah
tidak suci lagi. Kesendirian dan kehidupan metropolitan telah menodai filosofi
kebersamaan dan kemurnian jiwa. Aku tenggelam dalam hedonisme dan obsesi yang
tiada berujung. Ironis. Aku lulus S1 dari salah satu perguruan tinggi di
Bandung tahun 2005. Sebelumnya aku sempat terpikir untuk kembali ke kampung
halaman, membangun desaku sendiri. Tapi obsesi besarku meminta agar aku mencari
pengalaman kerja yang lebih menantang di kota Bandung. Dan saat itu aku turuti
begitu saja. Tahun berikutnya aku lanjutkan kuliah untuk menggapai gelar
magister. Dan di tahun 2008 aku pun berhasil lulus tepat waktu. Pulangkah? Tidak. Ternyata aku semakin
jatuh cinta dengan kota Bandung dan semua hiruk pikuknya. Tapi seiring dengan
berjalannya waktu aku semakin sadar bahwa bukan hanya obsesi yang menyuruhku
untuk tetap tinggal di kota ini tapi juga birahi untuk bergelut dengan
hedonisme dan materialisme. Mungkin aku terlambat untuk menyadari hal vital itu
saat ini. Tapi aku selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberi kesempatan
yang maha luas untukku menjadi lebih baik meskipun tak begitu panjang. Ada
batasan besar yang sedang menantiku di ujung jalan.
Aku duduk sendiri sembari angkang-angkang kaki di kursi
paling belakang. Memandangi kursi-kursi yang kosong sembari sesekali
memain-mainkan telapak tangan. Andai sedari dulu aku dianugerahi kemampuan
untuk membaca takdir melalui garis-garis di telapak tangan mungkin aku tidak
akan sekacau ini di ujungnya. Tapi aku memang terlahir sebagai orang yang
sebenarnya tak pernah percaya takhayul. Terlalu realistis. Terlalu duniawi
lebih tepatnya. Fisik. Wujud. Aku tumbuh menjadi pribadi yang eksakta. Semuanya
harus nyata dan terbukti. Hingga mungkin dalam beberapa waktu aku melupakan
sesuatu yang tidak nampak. Tapi ia selalu mengambil peran terpenting, kata mamahku.
Tuhan. Dan kini aku ingin sekali mengenal Dia lebih dekat. Apakah aku
terlambat?
Jam sudah menunjukkan pukul 6. Beberapa orang nampak pulas
tertidur. Tak ada suara obrolan atau monolog yang terdengar. Beberapa kepala
pun tampak layu dalam buaian bus yang berjalan kencang. Dan aku masih
memain-mainkan kedua telapak tanganku yang kini mulai basah oleh keringat.
Selalu. Mungkin aku terlalu bahagia karena bisa kembali pulang ke rumah, atau
malah sebaliknya? Aku takut untuk menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Saat
ini aku berusaha untuk bahagia dengan keadaanku yang sebenarnya. Aku mencoba
mencari segala sisi positif dari apa yang sedang aku alami. Aku bisa pulang.
Dan mudah-mudahan itu adalah hal yang positif.
Terakhir aku pulang adalah tahun lalu. Seminggu sebelum
bulan puasa yang jatuh pada tanggal 26 Nopember. Bukan untuk munggahan dan
melepas rasa kangenku pada keluarga. Aku kesana untuk menemui rekan bisnisku.
Di rumah aku hanya menumpang tidur. Itu pun terpaksa aku lakukan hanya karena
alasan tidak enak hati saja dengan orang tuaku karena sebenarnya aku bisa saja
tidur di hotel yang telah perusahaan sediakan. Saat itu aku melihat mamahku
sangat senang saat melihatku ada di depan pintu rumahnya. Tapi aku kurang bisa
merasakannya. Aku tidak peka. Aku melewatkan cerita yang mamah dan bapak utarakan
dengan menggebu saat aku memang sudah lelah dan ngantuk. Dan paginya, aku harus
pulang kembali ke Bandung. Dan aku seakan melupakan begitu saja apa yang mamah
ceritakan. Tak pernah aku ingat sampai saat ini. Begitulah aku.
Pulang kampung hari ini adalah pembalasanku untuk semua hal
yang aku lewatkan. Aku ingin mendengarkan semua cerita dan merasakan betapa
hangatnya keluarga. Cerita dan kehangatan yang dari dulu aku alami tapi tak
berhasil aku ingat. Maka dari sana aku bisa menarik kesimpulan khusus untuk
kasusku bahwasanya jika kamu ingin mencuci otakmu maka pergilah ke kota dan
nikmati peranmu sebagai anak kota dengan segala kenikmatannya. Dan sekarang aku
ingin memenuhi otakku lagi, meski mungkin tak akan persis sama. Cukup.
Cukup sudah perjalanan bus yang aku tempuh. Aku pijakkan
kaki di terminal Garut yang menurutku sudah semakin terlihat tua dan sedikit
kumuh. Dulu sepertinya lebih teduh dan bersih. Mungkin dunia sudah menua dan
berubah. Ya begitulah realitas dunia. Keindahan itu pasti berujung
keburukrupaan. Kehidupan itu berakhir kematian. Dan kepergian harusnya berujung
pada kepulangan.
Aku harus lanjutkan perjalanan menuju rumah dengan kendaraan
umum. Aku tak meminta orang rumah untuk menjemputku dari terminal. Aku ingin
membuat kejutan. Tak ada seorang pun dari orang rumah yang tahu bahwa hari ini
aku akan pulang. Mungkin tak hanya tidak megira, tapi mereka sudah tidak
mengharapkan aku untuk pulang. Bukan karena mereka tidak mau aku pulang tapi
karena aku yang tidak memberi mereka harapan untuk aku pulang ke rumah.
Sebenarnya ada beberapa macam pilihan kendaraan umum, ada angkot,
taxi, ojeg, dan becak, tapi aku memilih untuk naik becak. Kenapa? semua ada
alasannya.
Duduk manis seorang diri, wajahku tersapu asap hitam yang
mengepul dari truk yang melaju di depan becak yang aku tumpangi. Tukang becak
sudah berusaha untuk mrnghindari kepulan asap tersebut namun apa daya karena
ukuran truknya besar dan melaju dengan lambat maka kami harus tetap rela berada
di dalam kepulan itu. Sama seperti kehidupanku saat ini. Aku adalah manusia
yang kecil, sebenarnya, yang hidup di belakang arus yang sangat besar. Jauh di
lubuk hatiku, sebenarnya aku tidak ingin mengikuti arus yang ada, tapi apa
daya? Aku hanyalah pasir kecil yang terombang-ambing di samudera maha luas. Tak
bisa melawan nafsu dan ambisi sekitar yang menggoda imanku. Kenapa aku tidak
berusaha berhenti saja kalau memang tidak bisa melawan arus? Dan itulah yang
dilakukan tukang becak. menepi ke pinggir jalan dan berhenti. Ia biarkan truk
melenggang pergi. Dan saat jaraknya sudah menjauh, ia lanjutkan kegiatan
mengayuh becaknya. Dan kami terbebas dari kepulan itu. Ya, aku belajar. Meski
sebelumnya aku tidak berhenti, pada akhirnya Tuhan menyuruhku untuk berhenti
dengan cara-Nya. Ia memang Maha Pengendali.
Becak telah berhasil mengulang memori manisku bersama
kakakku. Aku dan kakakku hanya berbeda umur satu tahun, maka dari itu dulu kami
bagaikan dua sahabat karib. Kemana-mana selalu bersama. Kami pun bersekolah di
SD dan SMP yang sama. Karena sekolah kami agak jauh dari rumah maka mamahku
menyuruh tetangga yang berprofesi sebagai tukang becak untuk mengantarkan kami
ke sekolah. Hampir tiap pagi dan siang aku dan kakakku berada dalam satu becak.
Kami bercanda dan bercerita apa saja. Sampai di satu waktu aku menjadi aktivis
di organisasi sekolahku. Aku harus berangkat pagi sekali dan pulang selalu
hampir larut. Akhirnya terpaksa aku naik angkot. Dan kakakku masih tetap
menggunakan becak meski tanpaku. Setelah itu, aku tak pernah naik becak bersama
kakakku lagi. Aku benar-benar sendiri. Seperti saat ini.
Tiba di rumah dengan kaki gemetaran. Entah. Aku belum tahu
betul apa alasannya. Aku pandangi sebuah rumah kecil yang sederhana yang
berdiri kokoh di hadapanku. Hamparan rumput hijau yang segar dan gundukkan
tanaman hias di sekelilingnya. Aku tahu ini perbuatan siapa. Seorang wanita
sedang berdiri menunduk membelakangiku. Dia terlihat sedang menggunting
daun-daun kering di sudut halaman. Ya begitulah dia. Seorang ibu rumah tangga
yang mandiri. Semua pekerjaan rumah ia kerjakan sendiri. Tanpa kecuali.
Aku berjalan mengendap-ngendap menghampirinya. 50 cm di
belakangnya. Aku panggil dia.
“Mamah.....” Aku panggil dia dengan nada mengalun dan
lembut. Tapi dia tidak menoleh. Mungkin suaraku terlalu pelan.
“Mamahhhh....” aku coba memanggilnya dengan nada yang lebih
tinggi. Dia tetap tidak menoleh. Kenapa? lalu aku pegang pundaknya. Dan
akhirnya dia pun menoleh. Dengan awasan yang tajam. Beberapa detik suasana
membeku dan akhirnya dia langsung menyebut namaku setengah teriak dan menangis
di dadaku. Dan apa yang terjadi dengaku saat ini? Aku pun menangis
sejadi-jadinya. Bukan karena alasan sama seperti apa yang mamahku punya.
Menangis bahagia karena bisa bertemu dengan seseorang yang sangat ia cintai.
Tapi tangisan haru dari seseorang yang baru menyadari bahwasanya ada orang lain
dalam hidupnya yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seketika semua orang
rumah tumpah keluar dari rumah. Bapak, kakak, dan keponakan kecilku. Mereka
silih bergantian memelukku. Seperti sebuah keluarga yang baru menemukan anggota
keluarganya yang hilang entah kemana.
Perbincangan dan temu kangen kami lanjutkan di ruang depan.
Sebuah ruang kecil dengan kursi rotan dan beberapa kaligrafi di ke empat
dindingnya. Saat itu aku tak banyak bicara. Mamahku pun sama. Ia hanya bisa
sesegukan di kursi tuanya. Bapak membawa Andi, ponakanku, ke belakang. Dia
menangis sejadi-jadinya. Bocah usia 2 tahun itu mungkin kaget dengan tangisan
ramai-ramai yang terjadi barusan. Atau mungkin dia peka? Keterlaluan.
Kakakku bercerita banyak hal tentang perkembangan Andi.
Ponakanku sudah bisa berlari dan bercerita meski masih sederhana dan belum
jelas apa yang sebenarnya ia ceritakan. Luar biasa. Setahun yang lalu aku masih
melihatnya sebagai bayi yang hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya. Aku
melewatkannya. Lagi.
Aku lalu berujar pada mamah dan kakakku perihal niatku untuk
tinggal selama dua belas hari hari di rumah. Kakakku nampak antusias. Hal berbeda aku
lihat dari air muka mamahku. Ia nampak acuh tak acuh. Ia hanya menatapku
sembari sesekali menyeka sudut matanya. Keadaan membeku sesaat sampai kakakku
menyampaikan sesuatu yang menyakitkanku. Kakak bilang bahwa sudah enam bulan
mamah kehilangan kemampuan mendengar secara total. Ia tidak bisa lagi mendengar
bunyi sekeras apapun. Hal itu membuat aku sedih. Hanya sedih. Tapi ada satu hal
yang membuatku teramat sakit. Yakni aku tak pernah tahu itu. Dan aku tak pernah
berusaha untuk tahu. Semuanya, sedikit-demi sedikit, mulai aku sadari. Enam
bulan kebelakang, aku tak pernah menerima telpon dari mamah yang sebelumnya
rutin sekali untuk meneleponku meskipun lebih rutin aku diamkan. Apa yang
terjadi denganku? Setahun yang lalu adalah kesempatan terakhir untuknya bisa
mendengarkan cerita dariku secara langsung panjang lebar. Tapi apa yang
kulakukan? Aku malah tidak menghiraukan
apa yang dia ceritakan. Aku malah pura-pura tuli. Dan mungkin hal ini
yang membuat mamahku terus mengeluarkan air mata saat ini. Aku langsung
memeluknya erat. Mudah-mudahan ia mengerti. Pelukanku ini berarti penyesalan yang
sangat mendalam.
Mamah berdiri dan membimbingku pergi ke kebun belakang rumah.
Dia menunjuk satu titik di sudut kebun. Aku lihat bapak dan Andi sedang jongkok
di sekitar tititk itu. Sebuah kolam. Mamah menjelaskan bahwa kolam itu sengaja
bapak buat agar Andi betah main di rumah.
“Kolam ikan itu menberi energi positif ke sekitarnya” ujar
kakakku yang berpandangan lebih filosofis.
“Kapan bapak membuat kolam ikan ini?” tanyaku sembari
mendekati kolam itu.
“Tahun lalu. Seminggu sebelum kamu datang ke sini” jawab
bapak datar. Hampir tanpa intonasi. Begitulah adanya. Kalimat yang ia lontarkan
membawaku pada perasaan bersalah satu tahun yang lalu. Beberapa pertanyaan
menyeruak. Kenapa dibangun tahun lalu? Apakah benar untuk Andi?
“Memangnya waktu itu kamu gak sempat lihat kolam ini? Mamah
gak cerita sama kamu?” tanya kakak sedikit berteriak memecahkan lamunanku. Aku
hanya menggelengkan kepala. Soal aku tidak menyadari keberadaan kolam ini, ya.
Tapi soal mamah bercerita atau tidak tentang kolam ini, aku tidak tahu.
Seandainya mamah memang sempat cerita, dipastikan saat itu aku memang tidak
mendengarnya.
Aku pandangi kolam kecil yang hanya berukuran 2x2 meter itu.
Airnya bening hingga aku bisa melihat enam ikan koi kecil berenang mengitari
patung bangau putih yang ada di tengah-tengan kolam.
“Kenapa koi?” tanyaku tiba-tiba
“Koi itu bisa hidup sampai 100 tahunan. Anggap saja ini
adalah warisan dan kenang-kenangan dari bapak dan ibu untuk kalian” jelas
bapak. Masih dengan nada yang datar. Tapi apa yang ia katakan membuat hatiku
terenyuh. Aku tak bisa bayangkan apa yang akan orang tuaku rasakan saat aku
menceritakan hal yang sebenarnya. Bagaimana? Tiba-tiba mamah memelukku dari
belakang. Seakan ia tahu anaknya sedang butuh sandaran. Aku semakin tahu apa
yang aku rasakan saat ini. Ketakutan.
Gerimis turun seketika. Membuat ketenangan kolam berubah
jadi beriak dan gerakan acak dari gerombolan koi. Seketika kami semua berlari
ke dalam rumah dan kehangatan pun kembali tercipta. Cerita panjang lebar, solat
berjamaah, makan malam, nonton tv, dan bergosip sebelum tidur. Aku seakan
kembali ke masa lalu. Ya, masa lalu yang sempat terkubur kini sedikit demi
sedikit berhasil tergali kembali. Aku bahagia saat ini. Meski aku tahu beberapa
bulan lagi mungkin aku benar-benar akan menguburnya dalam-dalam bersama
jasadku.
“Bapak dan mamah ingin kamu tinggal di Garut. Mereka ingin
menghabiskan masa tuanya bersama kedua anaknya” Tetiba kakak berujar saat aku
hendak mengatupkan kedua mataku.
“Maaf, kak. Selama ini Ranti sudah menjauh dari kalian”
jawabku perlahan.
“Iya. Kadang materi tidak bisa membayar kebersamaan” Lanjut
kakakku tegas. Aku hanya mengangguk.
“Ngomong-ngomong, mamah tadi bohong. Kolam ikan yang
dibangun setahun yang lalu itu bukan untuk Andi” Aku bangun dari tidurku dan
menatap tajam kakakku yang masih terlentang di sampingku seakan meminta
penjelasan.
“Kolam itu bapak bereskan di tanggal 13 November tahun lalu.
Itu hari ulang tahunmu, Ran” jelasnya pelan. Aku hanya terpaku.
“Entah apa yang membuat bapak punya niat untuk menghadiahkan
sebuah kolam ikan untukmu”
Sebuah kolam ikan
Dengan enam ikan koi di dalamnya
Dibangun di tanggal 13 Nopember
Di belakang rumah
Semuanya
Menjatuhkanku ke masa lalu
Tiba-tiba air mataku jatuh tak tertahankan. Bapa memang tipe
lelaki yang pendiam. Tak pernah berekspresi lebih. Tapi ia selalu ingin
mewujudkan mimpi orangorang terdekatnya. Tak terkecuali mimpiku.
***
Namaku Ranti. Umurku sekarang sudah tidak muda lagi. 30
tahun dengan status lajang membuatku merasa tertekan. Tapi lingkungan sekitarku
tak pernah menuntutku untuk cepat-cepat melepaskan masa lajang ini. Lingkungan
ini hanya menuntutku untuk bergaya hidup sepatutnya. Seirama. Meski sebenarnya
aku tak suka. Aku terus menerus mengejar mimpi yang tak terbatas. Setinggi
langit yang memang tak memiliki batas nyata. Semuanya semu saja.
Satu bulan yang lalu semuanya berubah. Sebuah kenyataan
harus aku hadapi. Sendiri. Aku divonis memiliki kanker hati stadium 4. Beberapa
hari setelahnya aku hanya bisa mengurung diri. Aku hanya menangis, sesekali
berteriak. Marah pada Tuhan yang selama ini tak pernah aku singgung saat aku
sedang berada di puncak kesuksesan. Tapi setelahnya aku sadar. Hidup itu hanya
sementara. Kenapa aku harus mencari puncaknya jika satu saat nanti aku harus
jatuh kembali? Fatamorgana.
Apa yang akan aku lakukan kini? Berhenti lalu pulang
kembali.
***
Nama: Ranti Purwanti Tgl: 6 Juni 1992
Kelas: 3 B
Pelajaran: Bahasa Indonesia
Rumahku, Istanaku
Aku punya rumah besar sekali. Rumahku terdiri dari 4 kamar
tidur. Satu kamar orang tuaku, satu kamar kakakku, satu kamarku, dan satu lagi
kamar pembantu. Selain itu, ada ruang tamu yang berhiaskan lukisan-lukisan
pemandangan yag besar. Sofa di ruang tamu sangat empuk. Aku sering tertidur di
atasnya.
Rumahku punya halaman yang sangat luas. Halaman depan
rumahku ditanami dengan berbagai bunga dan rumput yang hijau. Ibuku sangat rajin
menanam dan memelihara tanaman. Aku dan kakak sering bermain kucing-kucingan di
halaman kami, saking luasnya.
Di belakang rumahku terdapat kolam ikan yang sangat kecil namun indah.
Kolam itu sengaja Bapa buatkan di hari ulang tahun ke-6 ku yang jatuh pada
tanggal 13 Nopember. Aku sangat senang sekali memandangi ikan-ikan yang
berenang. Bagiku itu lebih menarik daripada nonton kartun seharian.
Itulah alasan-alasan yang membuatku betah di rumah. Rumahku,
istanaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar