Selasa, 31 Desember 2013

PULANG DAN KOLAM IKAN





Rebun-rebun subuh seperti saat ini, biasanya aku masih berada di balik selimut yang memintal seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki. Tapi ajaibnya hari ini berbeda. Aku sudah duduk manis di sebuah bus bersama enam orang lainnya yang tidak aku kenal. Jam 5 pagi tepatnya. Aku kira, pagi buta di hari kerja seperti ini hanya aku yang melenggang sendiri bersama supir bus dan kondekturnya. Tapi ternyata tidak. Mungkin enam orang penumpang lainnya punya urusan penting sepertiku. Mungkin lebih penting dari alasanku sebenarnya. Pulang.

Ya. Setahun ini aku tidak pulang ke rumahku di Garut. Hari lebaran beserta seluruh kegiatan keluarganya aku lewatkan begitu saja. Demi sesuatu hal yang sama sekali tak membantuku saat ini. Inilah waktuku untuk pulang mungkin. Aku ambil jatah cutiku yang hanya 12 hari dalam setahun hanya untuk pulang ke rumah. Teman-temanku menyangka bahwa aku akan melarikan diri dari ruwetnya pekerjaan untuk berlibur di luar negeri. Andai saja mereka tahu bahwa aku akan habiskan jatah cutiku yang hanya dua belas hari hari ini hanya untuk pulang ke rumah yang sebenarnya bisa aku lakukan di setiap akhir pekan maka mungkin mereka akan terheran-heran. Ada apa gerangan?

Namaku Ranti dan saat ini aku hanya ingin mengingat semuanya kembali. Terperinci. Akhir-akhir ini aku seakan lupa akan masa laluku. Orang-orang disekitarku dan pendidikan yang aku tempuh telah merubahku menjadi pribadi yang terlalu visioner. Terlalu melihat masa depan yang belum jelas aku alami hingga aku melupakan masa lalu yang jelas-jelas aku cicipi asam, manis, dan pahitnya. Masa lalu yang jika aku pikir-pikir lagi merupakan masa terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Masa dimana aku masih suci.

Ya. Saat ini aku berpikir bahwa hati dan raga ini sudah tidak suci lagi. Kesendirian dan kehidupan metropolitan telah menodai filosofi kebersamaan dan kemurnian jiwa. Aku tenggelam dalam hedonisme dan obsesi yang tiada berujung. Ironis. Aku lulus S1 dari salah satu perguruan tinggi di Bandung tahun 2005. Sebelumnya aku sempat terpikir untuk kembali ke kampung halaman, membangun desaku sendiri. Tapi obsesi besarku meminta agar aku mencari pengalaman kerja yang lebih menantang di kota Bandung. Dan saat itu aku turuti begitu saja. Tahun berikutnya aku lanjutkan kuliah untuk menggapai gelar magister. Dan di tahun 2008 aku pun berhasil lulus tepat  waktu. Pulangkah? Tidak. Ternyata aku semakin jatuh cinta dengan kota Bandung dan semua hiruk pikuknya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku semakin sadar bahwa bukan hanya obsesi yang menyuruhku untuk tetap tinggal di kota ini tapi juga birahi untuk bergelut dengan hedonisme dan materialisme. Mungkin aku terlambat untuk menyadari hal vital itu saat ini. Tapi aku selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberi kesempatan yang maha luas untukku menjadi lebih baik meskipun tak begitu panjang. Ada batasan besar yang sedang menantiku di ujung jalan.

Aku duduk sendiri sembari angkang-angkang kaki di kursi paling belakang. Memandangi kursi-kursi yang kosong sembari sesekali memain-mainkan telapak tangan. Andai sedari dulu aku dianugerahi kemampuan untuk membaca takdir melalui garis-garis di telapak tangan mungkin aku tidak akan sekacau ini di ujungnya. Tapi aku memang terlahir sebagai orang yang sebenarnya tak pernah percaya takhayul. Terlalu realistis. Terlalu duniawi lebih tepatnya. Fisik. Wujud. Aku tumbuh menjadi pribadi yang eksakta. Semuanya harus nyata dan terbukti. Hingga mungkin dalam beberapa waktu aku melupakan sesuatu yang tidak nampak. Tapi ia selalu mengambil peran terpenting, kata mamahku. Tuhan. Dan kini aku ingin sekali mengenal Dia lebih dekat. Apakah aku terlambat?

Jam sudah menunjukkan pukul 6. Beberapa orang nampak pulas tertidur. Tak ada suara obrolan atau monolog yang terdengar. Beberapa kepala pun tampak layu dalam buaian bus yang berjalan kencang. Dan aku masih memain-mainkan kedua telapak tanganku yang kini mulai basah oleh keringat. Selalu. Mungkin aku terlalu bahagia karena bisa kembali pulang ke rumah, atau malah sebaliknya? Aku takut untuk menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Saat ini aku berusaha untuk bahagia dengan keadaanku yang sebenarnya. Aku mencoba mencari segala sisi positif dari apa yang sedang aku alami. Aku bisa pulang. Dan mudah-mudahan itu adalah hal yang positif.

Terakhir aku pulang adalah tahun lalu. Seminggu sebelum bulan puasa yang jatuh pada tanggal 26 Nopember. Bukan untuk munggahan dan melepas rasa kangenku pada keluarga. Aku kesana untuk menemui rekan bisnisku. Di rumah aku hanya menumpang tidur. Itu pun terpaksa aku lakukan hanya karena alasan tidak enak hati saja dengan orang tuaku karena sebenarnya aku bisa saja tidur di hotel yang telah perusahaan sediakan. Saat itu aku melihat mamahku sangat senang saat melihatku ada di depan pintu rumahnya. Tapi aku kurang bisa merasakannya. Aku tidak peka. Aku melewatkan cerita yang mamah dan bapak utarakan dengan menggebu saat aku memang sudah lelah dan ngantuk. Dan paginya, aku harus pulang kembali ke Bandung. Dan aku seakan melupakan begitu saja apa yang mamah ceritakan. Tak pernah aku ingat sampai saat ini. Begitulah aku.

Pulang kampung hari ini adalah pembalasanku untuk semua hal yang aku lewatkan. Aku ingin mendengarkan semua cerita dan merasakan betapa hangatnya keluarga. Cerita dan kehangatan yang dari dulu aku alami tapi tak berhasil aku ingat. Maka dari sana aku bisa menarik kesimpulan khusus untuk kasusku bahwasanya jika kamu ingin mencuci otakmu maka pergilah ke kota dan nikmati peranmu sebagai anak kota dengan segala kenikmatannya. Dan sekarang aku ingin memenuhi otakku lagi, meski mungkin tak akan persis sama. Cukup.

Cukup sudah perjalanan bus yang aku tempuh. Aku pijakkan kaki di terminal Garut yang menurutku sudah semakin terlihat tua dan sedikit kumuh. Dulu sepertinya lebih teduh dan bersih. Mungkin dunia sudah menua dan berubah. Ya begitulah realitas dunia. Keindahan itu pasti berujung keburukrupaan. Kehidupan itu berakhir kematian. Dan kepergian harusnya berujung pada kepulangan.

Aku harus lanjutkan perjalanan menuju rumah dengan kendaraan umum. Aku tak meminta orang rumah untuk menjemputku dari terminal. Aku ingin membuat kejutan. Tak ada seorang pun dari orang rumah yang tahu bahwa hari ini aku akan pulang. Mungkin tak hanya tidak megira, tapi mereka sudah tidak mengharapkan aku untuk pulang. Bukan karena mereka tidak mau aku pulang tapi karena aku yang tidak memberi mereka harapan untuk aku pulang ke rumah.

Sebenarnya ada beberapa macam pilihan kendaraan umum, ada angkot, taxi, ojeg, dan becak, tapi aku memilih untuk naik becak. Kenapa? semua ada alasannya.

Duduk manis seorang diri, wajahku tersapu asap hitam yang mengepul dari truk yang melaju di depan becak yang aku tumpangi. Tukang becak sudah berusaha untuk mrnghindari kepulan asap tersebut namun apa daya karena ukuran truknya besar dan melaju dengan lambat maka kami harus tetap rela berada di dalam kepulan itu. Sama seperti kehidupanku saat ini. Aku adalah manusia yang kecil, sebenarnya, yang hidup di belakang arus yang sangat besar. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku tidak ingin mengikuti arus yang ada, tapi apa daya? Aku hanyalah pasir kecil yang terombang-ambing di samudera maha luas. Tak bisa melawan nafsu dan ambisi sekitar yang menggoda imanku. Kenapa aku tidak berusaha berhenti saja kalau memang tidak bisa melawan arus? Dan itulah yang dilakukan tukang becak. menepi ke pinggir jalan dan berhenti. Ia biarkan truk melenggang pergi. Dan saat jaraknya sudah menjauh, ia lanjutkan kegiatan mengayuh becaknya. Dan kami terbebas dari kepulan itu. Ya, aku belajar. Meski sebelumnya aku tidak berhenti, pada akhirnya Tuhan menyuruhku untuk berhenti dengan cara-Nya. Ia memang Maha Pengendali.

Becak telah berhasil mengulang memori manisku bersama kakakku. Aku dan kakakku hanya berbeda umur satu tahun, maka dari itu dulu kami bagaikan dua sahabat karib. Kemana-mana selalu bersama. Kami pun bersekolah di SD dan SMP yang sama. Karena sekolah kami agak jauh dari rumah maka mamahku menyuruh tetangga yang berprofesi sebagai tukang becak untuk mengantarkan kami ke sekolah. Hampir tiap pagi dan siang aku dan kakakku berada dalam satu becak. Kami bercanda dan bercerita apa saja. Sampai di satu waktu aku menjadi aktivis di organisasi sekolahku. Aku harus berangkat pagi sekali dan pulang selalu hampir larut. Akhirnya terpaksa aku naik angkot. Dan kakakku masih tetap menggunakan becak meski tanpaku. Setelah itu, aku tak pernah naik becak bersama kakakku lagi. Aku benar-benar sendiri. Seperti saat ini.

Tiba di rumah dengan kaki gemetaran. Entah. Aku belum tahu betul apa alasannya. Aku pandangi sebuah rumah kecil yang sederhana yang berdiri kokoh di hadapanku. Hamparan rumput hijau yang segar dan gundukkan tanaman hias di sekelilingnya. Aku tahu ini perbuatan siapa. Seorang wanita sedang berdiri menunduk membelakangiku. Dia terlihat sedang menggunting daun-daun kering di sudut halaman. Ya begitulah dia. Seorang ibu rumah tangga yang mandiri. Semua pekerjaan rumah ia kerjakan sendiri. Tanpa kecuali.

Aku berjalan mengendap-ngendap menghampirinya. 50 cm di belakangnya. Aku panggil dia.

“Mamah.....” Aku panggil dia dengan nada mengalun dan lembut. Tapi dia tidak menoleh. Mungkin suaraku terlalu pelan.

“Mamahhhh....” aku coba memanggilnya dengan nada yang lebih tinggi. Dia tetap tidak menoleh. Kenapa? lalu aku pegang pundaknya. Dan akhirnya dia pun menoleh. Dengan awasan yang tajam. Beberapa detik suasana membeku dan akhirnya dia langsung menyebut namaku setengah teriak dan menangis di dadaku. Dan apa yang terjadi dengaku saat ini? Aku pun menangis sejadi-jadinya. Bukan karena alasan sama seperti apa yang mamahku punya. Menangis bahagia karena bisa bertemu dengan seseorang yang sangat ia cintai. Tapi tangisan haru dari seseorang yang baru menyadari bahwasanya ada orang lain dalam hidupnya yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seketika semua orang rumah tumpah keluar dari rumah. Bapak, kakak, dan keponakan kecilku. Mereka silih bergantian memelukku. Seperti sebuah keluarga yang baru menemukan anggota keluarganya yang hilang entah kemana.

Perbincangan dan temu kangen kami lanjutkan di ruang depan. Sebuah ruang kecil dengan kursi rotan dan beberapa kaligrafi di ke empat dindingnya. Saat itu aku tak banyak bicara. Mamahku pun sama. Ia hanya bisa sesegukan di kursi tuanya. Bapak membawa Andi, ponakanku, ke belakang. Dia menangis sejadi-jadinya. Bocah usia 2 tahun itu mungkin kaget dengan tangisan ramai-ramai yang terjadi barusan. Atau mungkin dia peka? Keterlaluan.

Kakakku bercerita banyak hal tentang perkembangan Andi. Ponakanku sudah bisa berlari dan bercerita meski masih sederhana dan belum jelas apa yang sebenarnya ia ceritakan. Luar biasa. Setahun yang lalu aku masih melihatnya sebagai bayi yang hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya. Aku melewatkannya. Lagi.

Aku lalu berujar pada mamah dan kakakku perihal niatku untuk tinggal selama dua belas hari hari di rumah. Kakakku nampak antusias. Hal berbeda aku lihat dari air muka mamahku. Ia nampak acuh tak acuh. Ia hanya menatapku sembari sesekali menyeka sudut matanya. Keadaan membeku sesaat sampai kakakku menyampaikan sesuatu yang menyakitkanku. Kakak bilang bahwa sudah enam bulan mamah kehilangan kemampuan mendengar secara total. Ia tidak bisa lagi mendengar bunyi sekeras apapun. Hal itu membuat aku sedih. Hanya sedih. Tapi ada satu hal yang membuatku teramat sakit. Yakni aku tak pernah tahu itu. Dan aku tak pernah berusaha untuk tahu. Semuanya, sedikit-demi sedikit, mulai aku sadari. Enam bulan kebelakang, aku tak pernah menerima telpon dari mamah yang sebelumnya rutin sekali untuk meneleponku meskipun lebih rutin aku diamkan. Apa yang terjadi denganku? Setahun yang lalu adalah kesempatan terakhir untuknya bisa mendengarkan cerita dariku secara langsung panjang lebar. Tapi apa yang kulakukan? Aku malah tidak menghiraukan  apa yang dia ceritakan. Aku malah pura-pura tuli. Dan mungkin hal ini yang membuat mamahku terus mengeluarkan air mata saat ini. Aku langsung memeluknya erat. Mudah-mudahan ia mengerti. Pelukanku ini berarti penyesalan yang sangat mendalam.

Mamah berdiri dan membimbingku pergi ke kebun belakang rumah. Dia menunjuk satu titik di sudut kebun. Aku lihat bapak dan Andi sedang jongkok di sekitar tititk itu. Sebuah kolam. Mamah menjelaskan bahwa kolam itu sengaja bapak buat agar Andi betah main di rumah.

“Kolam ikan itu menberi energi positif ke sekitarnya” ujar kakakku yang berpandangan lebih filosofis.

“Kapan bapak membuat kolam ikan ini?” tanyaku sembari mendekati kolam itu.

“Tahun lalu. Seminggu sebelum kamu datang ke sini” jawab bapak datar. Hampir tanpa intonasi. Begitulah adanya. Kalimat yang ia lontarkan membawaku pada perasaan bersalah satu tahun yang lalu. Beberapa pertanyaan menyeruak. Kenapa dibangun tahun lalu? Apakah benar untuk Andi?

“Memangnya waktu itu kamu gak sempat lihat kolam ini? Mamah gak cerita sama kamu?” tanya kakak sedikit berteriak memecahkan lamunanku. Aku hanya menggelengkan kepala. Soal aku tidak menyadari keberadaan kolam ini, ya. Tapi soal mamah bercerita atau tidak tentang kolam ini, aku tidak tahu. Seandainya mamah memang sempat cerita, dipastikan saat itu aku memang tidak mendengarnya.

Aku pandangi kolam kecil yang hanya berukuran 2x2 meter itu. Airnya bening hingga aku bisa melihat enam ikan koi kecil berenang mengitari patung bangau putih yang ada di tengah-tengan kolam.

“Kenapa koi?” tanyaku tiba-tiba

“Koi itu bisa hidup sampai 100 tahunan. Anggap saja ini adalah warisan dan kenang-kenangan dari bapak dan ibu untuk kalian” jelas bapak. Masih dengan nada yang datar. Tapi apa yang ia katakan membuat hatiku terenyuh. Aku tak bisa bayangkan apa yang akan orang tuaku rasakan saat aku menceritakan hal yang sebenarnya. Bagaimana? Tiba-tiba mamah memelukku dari belakang. Seakan ia tahu anaknya sedang butuh sandaran. Aku semakin tahu apa yang aku rasakan saat ini. Ketakutan.

Gerimis turun seketika. Membuat ketenangan kolam berubah jadi beriak dan gerakan acak dari gerombolan koi. Seketika kami semua berlari ke dalam rumah dan kehangatan pun kembali tercipta. Cerita panjang lebar, solat berjamaah, makan malam, nonton tv, dan bergosip sebelum tidur. Aku seakan kembali ke masa lalu. Ya, masa lalu yang sempat terkubur kini sedikit demi sedikit berhasil tergali kembali. Aku bahagia saat ini. Meski aku tahu beberapa bulan lagi mungkin aku benar-benar akan menguburnya dalam-dalam bersama jasadku.

“Bapak dan mamah ingin kamu tinggal di Garut. Mereka ingin menghabiskan masa tuanya bersama kedua anaknya” Tetiba kakak berujar saat aku hendak mengatupkan kedua mataku.

“Maaf, kak. Selama ini Ranti sudah menjauh dari kalian” jawabku perlahan.

“Iya. Kadang materi tidak bisa membayar kebersamaan” Lanjut kakakku tegas. Aku hanya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, mamah tadi bohong. Kolam ikan yang dibangun setahun yang lalu itu bukan untuk Andi” Aku bangun dari tidurku dan menatap tajam kakakku yang masih terlentang di sampingku seakan meminta penjelasan.

“Kolam itu bapak bereskan di tanggal 13 November tahun lalu. Itu hari ulang tahunmu, Ran” jelasnya pelan. Aku hanya terpaku.

“Entah apa yang membuat bapak punya niat untuk menghadiahkan sebuah kolam ikan untukmu”

Sebuah kolam ikan

Dengan enam ikan koi di dalamnya

Dibangun di tanggal 13 Nopember

Di belakang rumah

Semuanya

Menjatuhkanku ke masa lalu

Tiba-tiba air mataku jatuh tak tertahankan. Bapa memang tipe lelaki yang pendiam. Tak pernah berekspresi lebih. Tapi ia selalu ingin mewujudkan mimpi orangorang terdekatnya. Tak terkecuali mimpiku.

***

Namaku Ranti. Umurku sekarang sudah tidak muda lagi. 30 tahun dengan status lajang membuatku merasa tertekan. Tapi lingkungan sekitarku tak pernah menuntutku untuk cepat-cepat melepaskan masa lajang ini. Lingkungan ini hanya menuntutku untuk bergaya hidup sepatutnya. Seirama. Meski sebenarnya aku tak suka. Aku terus menerus mengejar mimpi yang tak terbatas. Setinggi langit yang memang tak memiliki batas nyata. Semuanya semu saja.

Satu bulan yang lalu semuanya berubah. Sebuah kenyataan harus aku hadapi. Sendiri. Aku divonis memiliki kanker hati stadium 4. Beberapa hari setelahnya aku hanya bisa mengurung diri. Aku hanya menangis, sesekali berteriak. Marah pada Tuhan yang selama ini tak pernah aku singgung saat aku sedang berada di puncak kesuksesan. Tapi setelahnya aku sadar. Hidup itu hanya sementara. Kenapa aku harus mencari puncaknya jika satu saat nanti aku harus jatuh kembali? Fatamorgana.

Apa yang akan aku lakukan kini? Berhenti lalu pulang kembali.

***

Nama: Ranti Purwanti                        Tgl: 6 Juni 1992

Kelas: 3 B

Pelajaran: Bahasa Indonesia





Rumahku, Istanaku



Aku punya rumah besar sekali. Rumahku terdiri dari 4 kamar tidur. Satu kamar orang tuaku, satu kamar kakakku, satu kamarku, dan satu lagi kamar pembantu. Selain itu, ada ruang tamu yang berhiaskan lukisan-lukisan pemandangan yag besar. Sofa di ruang tamu sangat empuk. Aku sering tertidur di atasnya.



Rumahku punya halaman yang sangat luas. Halaman depan rumahku ditanami dengan berbagai bunga dan rumput yang hijau. Ibuku sangat rajin menanam dan memelihara tanaman. Aku dan kakak sering bermain kucing-kucingan di halaman kami, saking luasnya.



Di belakang rumahku terdapat kolam ikan yang sangat kecil namun indah. Kolam itu sengaja Bapa buatkan di hari ulang tahun ke-6 ku yang jatuh pada tanggal 13 Nopember. Aku sangat senang sekali memandangi ikan-ikan yang berenang. Bagiku itu lebih menarik daripada nonton kartun seharian.



Itulah alasan-alasan yang membuatku betah di rumah. Rumahku, istanaku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar