Kamis, 18 Juli 2013

RANGKUMAN HUJAN




Sore nan indah di tepian kota Bandung. Tak biasanya, Sepanjang hari cerah tanpa kecuali. Bahkan di penghujung nyawanya. Langit masih berpesta pora menjelang kematiannya. Bermandikan mega di ufuk barat di antara bulatan jingga sang Maha. Menandakan hari akan segera pulang ke rumahnya di tepian bumi lain. Dan dia berdiri di atas loteng beton. Sendiri. Memandang atap-atap rumah yang seakan semakin terbakar senja. Dan dalam hatinya terdalam, ada satu rasa terselip tentang seseorang yang akan menemuinya sebentar lagi. Semoga. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Bagiku.

*** 

Sepertinya Bandung kembali menangis semalam. Pagi ini yang tersisa hanyalah dinginya kesenduan yang terlihat jelas di basahnya penghujung semak belukar dan wangi tanah yang mengakar. Dan saya yang menunggumu tanpa ragu. Sebenarnya.

“Selamat pagi” Saya berusaha semanis mungkin menyapa dia di ujung telpon. Lama sekali dia menjawab. Selalu.

“Iya” jawabnya singkat dan datar, hampir tidak ada intonasi antusias sedikit pun. Saya membayangkan wajahnya yang manis tapi pucat. Tampak tak ada semangat. Nampaknya. Minimal itu yang saya tangkap dari sebuah kata yang ia lontarkan barusan. Dan keheningan pun kembali tercipta. Ada apa?

“Masih tidur ya?” Tanya saya kembali memancing percakapan dengannya. Mudah-mudahan kali ini saya berhasil. Sudah tiga minggu percakapan hangat yang panjang tidak bisa saya dapatkan lagi dengannya. Saya masih ingat kapan terakhir kali kami berbincang hangat. Saat itu sore hari saat dia menceritakan pengalaman hari ke tujuhnya mengikuti pelatihan di jakarta. Semuanya tampak biasa saja. Dia dengan riangnya membicarakan peningkatan kemampuan yang ia rasakan setelah beberapa hari mengikuti bermacam-macam kelas. Tanpa jeda. Itulah dia. Dia biasanya selalu bercerita panjang lebar. Ia pandai mengelaborasi semua hal. Sampai-sampai terkadang ceritanya bak dongeng pengantar sebelum tidur. Dan hal bodoh tersebut yang terjadi saat itu. Saya tertidur pulas. Dia tampak kesal. Dan hari-hari berikutnya tak ada lagi percakapan hangat, panjang, dan lebar seperti biasanya.

“Baru saja bangun, hehe” Masih tanpa intonasi. Meskipun secara verbal, ada kata-kata serupa senyum. Tapi maknanya pada ujaran dia barusan itu berbeda. Mungkin.

“Oh. Aku cuma mau bangunin kamu. Takutnya kayak kemarin. Kamu telat ke tempat pelatihannya” Hanya alasan basi semacam ini yang bisa saya lontarkan kepadanya pagi ini. Adapun yang sebenarnya ingin saya bahas adalah hubungan kami. Kami tidak bisa selamanya hidup bagai api dalam sekam. Saya dan dia harus segera membicarakannya. Tapi kapan?

“Thanks anyway” Apa yang harus saya jawab?

“Sama-sama” Jawab saya dalam hati.

“Ya sudah. Cepat mandi sana!” Ujar saya menghentikan pembicaraan yang sedikit garing ini.

Ok

Klik. Dan percakapan penuh basa basi dan kedataran pun berakhir seiring dengan rintik air yang mulai terdengar bergemuruh di atap kamar saya. Seakan menangis. Tangisan yang masih saya anggap ketabuan. Tapi alam telah berhasil mewakilinya.

***

Aku perlu menanyakan apa maksud dia. Tapi? Entahlah. Gengsi dong. Dia atasan sementaraku di sini. Pria mapan, rupawan, dan yang paling penting masih lajang. Bagai pungguk merindukan bulan. Tapi kenapa coba tiba-tiba tadi pagi dia menelponku. Apakah sebegitu luangnya waktu atasanku untuk sekedar menanyakan aku akan masuk jam berapa hari ini? Itu poin intinya. Ingin sekali hati ini untuk menanyakan pada peserta pelatihan lainnya. Apakah mereka juga mengalami kejadian sepertiku tadi pagi? Aku harap tidak. Dan aku pun sepertinya tidak akan menanyakan hal itu pada mereka. Aku ingin menyimpan rasa kepenasaran ini rapat-rapat. Biar semuanya terkunci bersama dinginnya hujan yang pagi ini masih menghantui kota Jakarta.


***

Saya adalah pemuja hujan . Sebenarnya. Tapi jika hujan ini terus menerus turun tidak mengenal waktu, saya tidak bisa lagi mengatakannya itu di depan jutaan pasang mata. Saat ini juga saya mengganti bio di twitter menjadi “Tidak lagi mencintai hujan. Saat ini.”

“Masih pagi sudah twitter-an, Mas” Saya terkejut. Bak orang yang sedang melakukan maksiat via smartphone digenggamnya. Saya langsung memasukan barang yang sedang saya genggam itu ke saku celana. Saya segera membalikkan badan. Melihat sosok mungilnya yang berdiri di depan pintu kamarnya.

“Iya nih. Nunggu hujan reda” Saya menjawabnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Tapi jujur, senyum saya berujung keikhlasan. Entah.

“Kenapa harus ditunggu? Saat ia datang, Hujan tidak pernah berjanji pada manusia untuk reda tepat waktu, Mas. Hujan akan berhenti sendiri saat ia rasa sudah cukup. Tidak ada pertimbangan lain. Termasuk dirimu” Ujarnya sambil duduk di bangku depan kamarnya. Dia mengenakan sepatu cats warna biru mudanya. Santai. Selalu seperti itu. Bahkan di saat ia menjelaskan hal fundamental yang ia utarakan barusan. Kece.

“Wah. Anak hukum ini pandai juga berpuisi” Jujur. Apa yang dia katakan barusan adalah kalimat paling indah yang saya dengar pagi ini. Tampilan luarnya memang urakan. Tapi siapa yang tau setelah ia berbicara sangat mendalam. Puitis. Saya memang jarang menemukan momen seperti ini. Berdua dengan dia. Hujan pagi ini telah menemukan kami berdua dalam situasi ini. Saya dan dia berpayungkan hujan. Melihat tingkah urakan dan satu kalimat indah yang terlontar dari mulutnya membuat saya termenung sejenak memperhatikan gerak geriknya.

“Puisi? Barusan saya cuma ngobrol biasa kok, Mas” Kembali suara lembutnya bergelut dengan gemericik rinai hujan.

Gak masuk kuliah hari ini? Atau sama-sama sedang menunggu hujan reda?” Tanyaku sambil mendekati dia yang sedang duduk. Pertanyaan basa-basi yang keluar secara spontan. Tak diproses di otak sebelumnya, mungkin.

“Saya menunggu seseorang yang sedang menembus hujan. Semoga dia bisa menepati janjinya” Jawabnya singkat, padat, dan kurang jelas.

“SIAPA?” Teriak saya dalam hati.

 ***

Tak terasa, sudah hampir 1800 detik mata ini tidak lepas dari pandangannya. Astaga. Apa yang terjadi dengan mata ini? Begitu liar tanpa kendali. Ada sesuatu yang membuat ia menjadi terlihat menarik. Entah apa dan dimana letaknya? Meski pun saya memiliki pembanding untuk hal seperti itu. Tapi, mereka berdua adalah dua hal yang berbeda. Yang satu manis dan yang lainnya asin. Dua-duanya sama-sama enak. Tapi saat ini saya ingin seseorang yang manis. Semanis ia yang sedang duduk di meja kerjanya. Seseorang yang tak luput dari pandanganku. Saat ini.

***

Dia pergi bersama orang yang sebelumnya belum saya kenal. Mungkin seseorang yang menjemput dia adalah pacar barunya.

“Kenapa cemburu?” Tanya saya dalam hati. Bertanya pada diri sendiri.

Beberapa menit yang lalu. Hujan terasa indah. Namun kali ini, hujan kembali membuat saya kesal. Tak ada alasan untuk kembali mengubah bio yang sempat terpikir untuk diubah kembali barusan. Hujan memang punya cerita berbeda pagi ini.

***

Apakah ini termasuk menduakan hubungan? Memang apa yang aku rasakan saat ini adalah kebingungan. Bingung akan hubungan yang terasa hambar yang aku jalani saat ini. Enam tahun bersama dia membuat saya mengkhawatirkan tahun-tahun berikutnya. Grafiknya menurun. Tidak ada dinamika kenaikan kualitas. Yang dulunya istimewa menjadi biasa saja pada ujungnya. Mungkin ini hanya cobaan di tahun ke enam kami membina hubungan ini. Bingung.

Apakah seseorang lain yang hadir saat ini adalah jawaban dari Tuhan tentang jodohku kelak? Kesimpulan ini memang belum pasti kebenarannya. Yang pasti, hari-hari terakhir ini saya merasa senang. Perlakuan-perlakuan kecil darinya selalu saya hargai dengan sesuatu harapan yang besar akannya. Dia adalaha alasan kenapa aku berangkat kerja sangat pagi. Agar aku bisa memberikan senyuman selamat datang kepadanya.

Bunyi nada tanda pesan masuk memecah renunganku. Sebuah pesan singkat yang ternyata datang dari teman pelatihanku.

“Hai, aku juga mendapatkan teleponnya pagi tadi”

Isi pesan singkat ini membuatku terhenyak sejenak. Tak bisa bernafas untuk beberapa detik. Tapi kemudian hati memanipulasi akal. Semuanya tak aku hiraukan terlalu berlebihan. Aku benci keadaan ini. Kenapa semuanya berujung seperti ini. Aku lebih baik tidak tahu apapun tentang hal ini. Aku ingin menelannya rapat dan bulat. Aku senang berada dalam keadaan penuh kepenasaran ini. Baiklah. Aku akan hiraukan semuanya.

 ***

Apakah ini yang dinamakan orang sebagai selingkuh hati? Setiap pagi saya mengintip kamarnya di balik jendela. Saya sekedar ingin mengetahui apakah pagi ini dia pergi keluar atau tidak. Hanya itu saja, tak lebih. Tapi kenapa sesekali hati saya seakan patah dibuatnya. Saat ia keluar dengan riang gembira dan menyapa seseorang yang berdiri manja di depan pintunya. Kalau mereka berdua pacaran, apa salahnya? Tapi kenapa hati ini bisa patah dibuatnya? Padahal sudah lama saya tidak merasakan perasaan seperti ini.

Enam tahun ini saya hidup dalam keharmonisan. Saya memiliki pasangan yag sangat sempurna bagi saya. Dia adalah seseorang yang sudah mengerti saya luar dan dalam. Tapi ada apa dengan kami di tahun keenam ini? Apakah ini sepenuhnya kesalahan saya? Nampaknya akar masalah ini tidak sesederhana apa yang saya pikirkan.

Orang bijak berpendapat jika tidak selamanya cinta itu akan menampakkan muka indahnya. Tidak seperti bulan yang selulu menyembunyikan sisi gelapnya. Saya menyadari hal itu sejak dulu. Memang ada sejuta hal manis dan pahit dalam hubungan kami. Tapi kali ini masalahnya terasa paling pahit diantara semua hal pahit. Mungkinkah cinta telah menemui titik zenith-nya?

“Puncak dari cinta itu adalah perpisahan. Bisa itu kematian, perceraian, atau yang paling sederhana, putus” seseorang pernah berujar itu kepada saya. Di akhir percakapan kami saat hujan mengurung langkahku. Saat ia pergi dengan seseorang lain.

“Bagiku puncaknya adalah mengetahui kamu sudah ada yang memiliki” Tegasku dalam hati.

 ***

Aku menunggunya pagi ini. Seperti biasa. Duduk di mejaku sembari memandangi meja kebesarannya. Hari ini adalah hari terakhir pelatihanku di jakarta. Hari yang tidak pernah ingin kutemui sebenarnya. Tapi apa mau dikata. Seseorang menungguku di kota lain. Seseorang yang berarti kenyataan. Kenyataan yang entah akan berujung pahit atau manis. Entahlah.


“Masih menunggu hujan reda?” Tanya seseorang yang sudah saya kenal benar suaranya. Suara yang akhir-akhir ini selalu saya tunggu kehadirannya berdendang di gendang telinga. Dan kami saat ini terjebak kembali dalam kondisi ini. Situasi bernama hujan.

Oh... kamu rupanya. Hemm... kali ini tidak. Saya hanya ingin menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh di buminya. Saya tidak tega mengharapkan ia berhenti menemui peraduannya. Tanah” Benar. Malam ini saya hanya ingin merefleksikan diri saya pada genangan. Meski malam ini gelap. Tapi saya masih bisa lihat pantulan wajah saya pada genangan di depan teras kosan. Cahaya temaram lampu pijar membuat peristiwa optik itu terjadi dan menjadikannya lebih dramatis. Saya melihat wajah yang sedang kebingungan. Wajah yang menunggu jawaban pasti dari seseorang yang sedang jauh di sana. Besok mungkin wajah tersebut akan menemukan kepastiannya. Saya sedikit menghiraukan kehadiran teman kosan saya yang selalu saya tunggu kehadirannya. Dia kemudian terlihat duduk tepat di samping saya. Memandangi genangan air hujan.


Yuhuuuu, Bankir juga kenal yang namanya kalimat indah ya?” tanyanya sambil menunjuk ke bayangan wajah saya yang terbentuk di genangan air.

“Bukan hanya mengenal sebenarnya. Tapi saya paham bagaimana mengungkapkan perasaan” Ujar saya singkat.

“Begitukah? Saya rasa Anda kurang bisa. Itu sih menurut analisisku lo...” Tanya dia balik. Dengan nada yang sinis dan introgatif.

Haha, analisis macam apa yang kamu gunakan?” Saya tidak habis akal. Saya jawab pertanyaan introgatifnya dengan balik bertanya kepada dia dengan pertanyaan yang tak kalah introgatif.

“Analisis pura-pura tidak tahu saat ada seseorang memata-matainya dibalik jendela” Dia menjawab dengan lugasnya. Tak ada beban. Sedikit membuatku bingung. Tapi setelah dipikir-pikir, saya benar-benar merasa diintrogasi. Sebagai terdakwa utama. Dia memang anak hukum yang sangat ulung.

***

Dan ritme debaran pun kembali meningkat. Ia datang dengan langkah tegapnya. Membuatku berdiri membatu, tak tahu harus melakukan apa. Apakah aku harus langsung mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan? Apakah tidak terlalu frontal jika aku melakukan hal seperti itu saat ini?

“Selamat pagi, Pak” Sapaku padanya yang terlihat segar. Selalu. Terpujilah Tuhan untuk ciptaan-Nya yang satu ini. Wajah yang selalu tampak menggembirakan.

“Selamat pagi” dan sungguh syahdu terdengar. Membuatku lupa segalanya untuk sejenak. Tapi...

“Ada apa dengan wajahmu? Terlihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya?” Benarkah? Apakah semuanya tampak begitu jelas? Tidak ada penjelasan untuk pertanyaan itu. Aku menyerah.

“Apakah nanti siang bapak punya waktu? Saya ingin membicarakan sesuatu hal dengan bapak” Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikannya lagi. Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhir bagi kami. Aku harus tau perasaannya. Dia pun harus tahu perasaanku yang sebenarnya.

Ok. Selalu ada waktu untuk kamu. Tunggu saja saya di kantin saat makan siang” Jawabnya singkat sambil bergegas menuju meja kebesarannya. Jawaban yang kembali membuatku melayang ke langit kedelapan. Kalau pun memang ada.

 ***

“Apa yang akan kamu pilih? Terjebak perasaan atau dijebak perasaan?” Tanya dia padaku yang masih kaget dengan pernyataannya barusan.

“Terjebak. Menurut saya, kata terjebak berarti ketidaksengajaan. Sedangkan dijebak seolah-olah saya sebagai korban” Jawab saya. Saya tak tahu jawaban seperti apa yang ia harapkan. Bahkan saya tidak mengerti kenapa dia mengutarakan pertanyaan semacam itu.

“Haha. Begitu ya? Bagiku dua-duanya itu korban. Korban perasaan. Tapi sebenarnya seseorang yang punya keteguhan hati tidak akan pernah mengalami dua situasi itu. Dia akan senantiasa bertahan dari jebakan perasaan. Karena dia tahu bagaimana cara bermain dengan perasaan yang benar. Semisal berkenaan dengan cinta, ia tak pernah berpaling kiri kanan saat ia memiliki orang yang ia cintai. Dia tak akan pernah terkena jebakan cinta.” Jelasnya panjang lebar dan saya semakin bingung.

“Apakah penjelasanmu itu ditujukan untuk saya?” Tanya saya padanya. Saya takut semuanya menjadi tidak jelas.

“Dia itu temanku, Mas. Aku tidak ingin menjadi duri dalam hubungan kalian” Aku mengerti sekarang arah dari percakapan kami saat ini. Saya benar-benar didakwa olehnya. Dan seharusnya saya memang cepat tersadar. Tidak lagi terjebak atau dijebak perasaan.

“Maafkan saya untuk hal itu. Saya khilaf” saya hanya bisa menunduk di hadapannya. Bak anak kecil yang ketahuan sudah memecahkan vas bunga kesayangan ibunya.

“Saya mengerti masalah kalian. Dia juga sempat cerita tentang hubungan kalian, kemarin. Perjuangkan cintamu, Mas. Masih ada harapan” Ujarnya sambil meninggalkan saya yang duduk tertunduk di sampingnya.

“Besok” Jawab saya singkat.

Tiba-tiba dia memeluk saya. Erat. Saya rasakan suatu getaran yang berbeda. Ingin sekali hasrat ini menolak. Tapi apa daya. Semuanya terjadi mengalir seperti air.

“Sebenarnya aku senang bermain dengan api, Mas” bisiknya lembut pada saya.

***

Dag dig dug. Perasaanku tak menentu. Percaya atau tidak, sebenarnya aku tidak yakin dengan penjelasan yang akan aku ungkapkan kepada dia siang ini. Apapun yang akan terlontar kemudian, itulah jawabannya. Aku sedang bermain judi dengan perasaan. Perasaan akan sosok yang kini sedang berjalan tegap menuju meja tempatku menunggunya.

“Selamat siang” Sapanya manis kepadaku. Memang selalu begitu. Manis.

“Siang, Pak” Balasku lugas sembari berdiri menyambutnya. Kemudian dia mempersilahkanku untuk duduk kembali dengan bahasa tubuhnya.

“Sudah memesan makanannya?” Tanyanya padaku. Memang niatku kesini bukan untuk makan siang bersama dia. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku.

“Belum, Pak. Saya tidak mau mengganggu jam makan siang bapak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu. Saya hanya perlu waktu lima menit untuk menjelaskan semuanya” Jawabku seakan ingin sekali semuanya cepat berakhir.

“Baiklah kalau begitu. Silahkan” Kesempatan seakan semakin dekat. Jelas terlihat. Baunya sudah tercium tajam. Tapi.....

“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas bimbingan bapak selama kurang lebih lima minggu ini” Entah hal apa yang membungkamku untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Tiba-tiba aku tersadar bahwa ini hanyalah sebuah kekonyolan. Aku sudah punya pacar dan lelaki yang ada di hadapanku hanyalah sebuah bintang yang tak akan pernah tercapai. Aku bukanlah ciderella yang mengharapkan seorang pangeran berkuda menjemputku tepat di halaman. Aku hanyalah korban perasaan. Terjebak halusinasi keadaan.

“Sudah?” Tanyanya padaku polos. Dia memang polos. Sepolos aku yang tidak menyadari bahwa ia memang ramah kepada semua orang. Bukan hanya padaku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Tak ada kata-kata lain yang sanggup aku ucapkan.

“Jika hal itu yang ingin kamu sampaikan. Saya akan balik berterimakasih atas kesan baik yang kamu tinggalkan.”

Aku meninggalkannya sendiri. Tidak sopan memang. Mungkin kesan dia terhadapku selama ini akan berubah drastis setelah kejadian ini. Aku berjalan gontai meninggalkan mimpi di siang bolong. Aku harus berani hadapi kenyataan. Kenyataan dimana aku telah bermain-main dengan hati dan akan mempertanggungjawabkannya besok. Saat aku bertemu lagi dengannya. Lelaki di kota Bandung.

***

Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang wanita datang menghampiri pria yang sedari tadi aku amati lekat di balik pintu loteng. Pria yang selama setahun ini mencuri perhatianku. Pria yang sebenarnya haram bagiku untuk kucintai. Pria yang sudah menjadi belahan hati sahabatku; seorang wanita yang sekarang duduk di sampingnya.

*** 


Saya mematung sendiri. Lama sekali. Berkawan angin sore dan langit yang menjingga. Saya tidak akan menunggunya lagi. Semuanya pasti akan berakhir tepat pada waktunya.

“Selamat sore” Sapa seorang wanita di belakangku. Suaranya berinterferensi sejalan dengan jaraknya yang mendekat. Saya tahu siapa wanita yang memiliki suara itu. Suara yang sudah lama tak saya dengar.

“Sore” Jawab saya lugas. Cenderung terdengar ketus. Apa yang ada dalam pikian saya. Ini adalah hari pertama saya bertemu dengan dia lagi. Harusnya saya senang. Meluap. Tapi kenyataannya saat ini saya merasa biasa saja.

“Apa kabar Bandung?” Tanyanya dengan intonasi yang antusias. Sembari duduk bersila di atas lantai loteng, di sampingku.

“Bandung mendung sebulan ini. Entah, padahal bulan sebelumnya Bandung cerah-cerah saja” Jawab saya sembari melihat wajahnya yang cerah ceria. Manis, tak lagi pucat.

“Jakarta pun demikian” Sungguh manis parasnya. Wajahnya cerah menjingga. Tersapu langit yang memang merah saat itu. Apakah aku tega?
“Aku punya cerita tentang hujan” Aku mencoba untuk mengelaborasi keadaan. Aku ingin dia menerimanya tanpa luka. Perlahan-lahan. Meski hampir tidak mungkin. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

“Apakah itu?” Wajahnya berpaling menengadah ke muka saya. Rautnya sedikit menyurutkan semangat saya untuk mencoba.

“Aku tidak akan menunggu hujan reda dengan cepat. Aku akan membiarkannya. Menunggu rangkuman yang akan ia sajikan di ujungnya” Jelas saya masih dengan intonasi yang tenang, cenderung datar.

“Maksudnya?” Tanya dia lagi.

“Enam tahun memang bukan waktu yang pendek untuk sebuah hubungan. Kamu mengerti perasaan saya kan?” Saya lihat wajahnya menunduk. Seakan angin telah sampaikan hal apa yang sebenarnya belum saya ungkapkan kepadanya. Dari tadi angin telah menguping selama saya bergumam dalam kesendirian. Angin... oh angin...

“Saya menyadari cepat atau lambat hujan akan reda. Perasaan pun sedikit demi sedikit akan surut. Selama ini saya terus menerus menunggu hujan reda. Tapi semuanya ternyata tidak untuk ditunggu. Semuanya akan berakhir sendiri. Pun cinta. Suatu saat ia akan surut. Cepat atau lambat, tanpa ditunggu. Tidak bisa direkayasa baik kedatangannya atau pun kepergiannya” Saya jelaskan panjang lebar. Bagai pembunuh berdarah dingin, datar tanpa merasa berdosa. Tapi cepat atau lambat memang harus seperti ini. Tidak bisa ditunda. Saya tidak mau membiarkannya terjebak atau dijebak perasaannya sendiri. Sebuah sandiwara berskala besar. Saya sudah tidak mencintai wanita yang ada di samping saya saat ini. Setahun terakhir ini saya hanya berusaha menggenggam hati agar lima tahun perjuangan mewujudkan cinta bisa saya pertahankan. Tapi ternyata, semuanya sia-sia.

“Hubungan kita pun berakhir? Enam tahun akan berakhir sore ini?” Tanyanya sembari masih tertunduk dengan suara sedikit terisak. Saya mengerti perasaannya. Sungguh.

“Maafkan saya” Saya memeluk tubuhnya erat. Lekat seakan tak ingin berpisah di saat saya tahu bahwa sore ini semuanya akan berakhir. Cerita indah selama beberapa tahun terakhir dengan dia tak semudah ini hilang begitu saja. Meskipun proses untuk sampai di tahap ini memang tidak secepat yang ia pikirkan. Mungkin.

Dan langit pun mulai temaram. Menutup hari. Menutup cerita cinta kami.


Seseorang terlihat tersenyum dibalik pintu loteng. Saya pun membalas senyumnya. Cinta baru akan segera saya gapai. Meskipun saya harus terjebak atau malah dijebak perasaan olehnya. Kami berdua sangat siap untuk bermain api. Menemui tantangan untuk mewujudkan cinta kami.

1 komentar: