Sore nan indah di tepian kota Bandung. Tak biasanya,
Sepanjang hari cerah tanpa kecuali. Bahkan di penghujung nyawanya. Langit masih berpesta
pora menjelang kematiannya. Bermandikan mega di ufuk barat di antara bulatan
jingga sang Maha. Menandakan hari akan segera pulang ke rumahnya di tepian bumi
lain. Dan dia berdiri di atas loteng beton. Sendiri. Memandang atap-atap rumah
yang seakan semakin terbakar senja. Dan dalam hatinya terdalam, ada satu rasa
terselip tentang seseorang yang akan menemuinya sebentar lagi. Semoga. Aku
berharap semuanya akan baik-baik saja. Bagiku.
Sepertinya Bandung kembali menangis semalam. Pagi ini yang
tersisa hanyalah dinginya kesenduan yang terlihat jelas di basahnya penghujung
semak belukar dan wangi tanah yang mengakar. Dan saya yang menunggumu tanpa
ragu. Sebenarnya.
“Selamat pagi” Saya berusaha semanis mungkin menyapa dia di
ujung telpon. Lama sekali dia menjawab. Selalu.
“Iya” jawabnya singkat dan datar, hampir tidak ada intonasi
antusias sedikit pun. Saya membayangkan wajahnya yang manis tapi pucat. Tampak
tak ada semangat. Nampaknya. Minimal itu yang saya tangkap dari sebuah kata
yang ia lontarkan barusan. Dan keheningan pun kembali tercipta. Ada apa?
“Masih tidur ya?” Tanya saya kembali memancing percakapan
dengannya. Mudah-mudahan kali ini saya berhasil. Sudah tiga minggu percakapan
hangat yang panjang tidak bisa saya dapatkan lagi dengannya. Saya masih ingat
kapan terakhir kali kami berbincang hangat. Saat itu sore hari saat dia
menceritakan pengalaman hari ke tujuhnya mengikuti pelatihan di jakarta.
Semuanya tampak biasa saja. Dia dengan riangnya membicarakan peningkatan
kemampuan yang ia rasakan setelah beberapa hari mengikuti bermacam-macam kelas.
Tanpa jeda. Itulah dia. Dia biasanya selalu bercerita panjang lebar. Ia pandai
mengelaborasi semua hal. Sampai-sampai terkadang ceritanya bak dongeng
pengantar sebelum tidur. Dan hal bodoh tersebut yang terjadi saat itu. Saya
tertidur pulas. Dia tampak kesal. Dan hari-hari berikutnya tak ada lagi
percakapan hangat, panjang, dan lebar seperti biasanya.
“Baru saja bangun, hehe” Masih tanpa intonasi. Meskipun
secara verbal, ada kata-kata serupa senyum. Tapi maknanya pada ujaran dia
barusan itu berbeda. Mungkin.
“Oh. Aku cuma mau bangunin kamu. Takutnya kayak kemarin.
Kamu telat ke tempat pelatihannya” Hanya alasan basi semacam ini yang bisa saya
lontarkan kepadanya pagi ini. Adapun yang sebenarnya ingin saya bahas adalah
hubungan kami. Kami tidak bisa selamanya hidup bagai api dalam sekam. Saya dan
dia harus segera membicarakannya. Tapi kapan?
“Thanks anyway” Apa
yang harus saya jawab?
“Sama-sama” Jawab saya dalam hati.
“Ya sudah. Cepat mandi sana!” Ujar saya menghentikan
pembicaraan yang sedikit garing ini.
“Ok”
Klik. Dan percakapan penuh basa basi dan kedataran pun
berakhir seiring dengan rintik air yang mulai terdengar bergemuruh di atap
kamar saya. Seakan menangis. Tangisan yang masih saya anggap ketabuan. Tapi
alam telah berhasil mewakilinya.
***
Aku perlu menanyakan apa maksud dia. Tapi? Entahlah. Gengsi
dong. Dia atasan sementaraku di sini. Pria mapan, rupawan, dan yang paling
penting masih lajang. Bagai pungguk
merindukan bulan. Tapi kenapa coba tiba-tiba tadi pagi dia menelponku. Apakah
sebegitu luangnya waktu atasanku untuk sekedar menanyakan aku akan masuk jam
berapa hari ini? Itu poin intinya. Ingin sekali hati ini untuk menanyakan pada
peserta pelatihan lainnya. Apakah mereka juga mengalami kejadian sepertiku tadi
pagi? Aku harap tidak. Dan aku pun sepertinya tidak akan menanyakan hal itu
pada mereka. Aku ingin menyimpan rasa kepenasaran ini rapat-rapat. Biar
semuanya terkunci bersama dinginnya hujan yang pagi ini masih menghantui kota
Jakarta.
Saya adalah pemuja hujan . Sebenarnya. Tapi jika hujan ini
terus menerus turun tidak mengenal waktu, saya tidak bisa lagi mengatakannya
itu di depan jutaan pasang mata. Saat ini juga saya mengganti bio di twitter menjadi “Tidak lagi mencintai hujan. Saat ini.”
“Masih pagi sudah twitter-an,
Mas” Saya terkejut. Bak orang yang sedang melakukan maksiat via smartphone digenggamnya. Saya langsung memasukan
barang yang sedang saya genggam itu ke saku celana. Saya segera membalikkan
badan. Melihat sosok mungilnya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Iya nih. Nunggu hujan reda” Saya menjawabnya dengan senyum
yang sedikit dipaksakan. Tapi jujur, senyum saya berujung keikhlasan. Entah.
“Kenapa harus ditunggu? Saat ia datang, Hujan tidak pernah
berjanji pada manusia untuk reda tepat waktu, Mas. Hujan akan berhenti sendiri
saat ia rasa sudah cukup. Tidak ada pertimbangan lain. Termasuk dirimu” Ujarnya
sambil duduk di bangku depan kamarnya. Dia mengenakan sepatu cats warna biru mudanya. Santai. Selalu
seperti itu. Bahkan di saat ia menjelaskan hal fundamental yang ia utarakan
barusan. Kece.
“Wah. Anak hukum ini pandai juga berpuisi” Jujur. Apa yang
dia katakan barusan adalah kalimat paling indah yang saya dengar pagi ini.
Tampilan luarnya memang urakan. Tapi siapa yang tau setelah ia berbicara sangat
mendalam. Puitis. Saya memang jarang menemukan momen seperti ini. Berdua dengan
dia. Hujan pagi ini telah menemukan kami berdua dalam situasi ini. Saya dan dia
berpayungkan hujan. Melihat tingkah urakan dan satu kalimat indah yang
terlontar dari mulutnya membuat saya termenung sejenak memperhatikan gerak
geriknya.
“Puisi? Barusan saya cuma ngobrol biasa kok, Mas” Kembali
suara lembutnya bergelut dengan gemericik rinai hujan.
“Gak masuk kuliah hari ini? Atau sama-sama sedang menunggu
hujan reda?” Tanyaku sambil mendekati dia yang sedang duduk. Pertanyaan
basa-basi yang keluar secara spontan. Tak diproses di otak sebelumnya, mungkin.
“Saya menunggu seseorang yang sedang menembus hujan. Semoga
dia bisa menepati janjinya” Jawabnya singkat, padat, dan kurang jelas.
“SIAPA?” Teriak saya dalam hati.
Tak terasa, sudah hampir 1800 detik mata ini tidak lepas
dari pandangannya. Astaga. Apa yang terjadi dengan mata ini? Begitu liar tanpa
kendali. Ada sesuatu yang membuat ia menjadi terlihat menarik. Entah apa dan
dimana letaknya? Meski pun saya memiliki pembanding untuk hal seperti itu.
Tapi, mereka berdua adalah dua hal yang berbeda. Yang satu manis dan yang
lainnya asin. Dua-duanya sama-sama enak. Tapi saat ini saya ingin seseorang
yang manis. Semanis ia yang sedang duduk di meja kerjanya. Seseorang yang tak
luput dari pandanganku. Saat ini.
Dia pergi bersama orang yang sebelumnya belum saya kenal.
Mungkin seseorang yang menjemput dia adalah pacar barunya.
“Kenapa cemburu?” Tanya saya dalam hati. Bertanya pada diri
sendiri.
Beberapa menit yang lalu. Hujan terasa indah. Namun kali
ini, hujan kembali membuat saya kesal. Tak ada alasan untuk kembali mengubah bio yang sempat terpikir untuk diubah
kembali barusan. Hujan memang punya cerita berbeda pagi ini.
Apakah ini termasuk menduakan hubungan? Memang apa yang aku
rasakan saat ini adalah kebingungan. Bingung akan hubungan yang terasa hambar
yang aku jalani saat ini. Enam tahun bersama dia membuat saya mengkhawatirkan
tahun-tahun berikutnya. Grafiknya menurun. Tidak ada dinamika kenaikan
kualitas. Yang dulunya istimewa menjadi biasa saja pada ujungnya. Mungkin ini
hanya cobaan di tahun ke enam kami membina hubungan ini. Bingung.
Apakah seseorang lain yang hadir saat ini adalah jawaban
dari Tuhan tentang jodohku kelak? Kesimpulan ini memang belum pasti
kebenarannya. Yang pasti, hari-hari terakhir ini saya merasa senang.
Perlakuan-perlakuan kecil darinya selalu saya hargai dengan sesuatu harapan
yang besar akannya. Dia adalaha alasan kenapa aku berangkat kerja sangat pagi.
Agar aku bisa memberikan senyuman selamat datang kepadanya.
Bunyi nada tanda pesan masuk memecah renunganku. Sebuah
pesan singkat yang ternyata datang dari teman pelatihanku.
“Hai, aku juga mendapatkan teleponnya pagi tadi”
Isi pesan singkat ini membuatku terhenyak sejenak. Tak bisa
bernafas untuk beberapa detik. Tapi kemudian hati memanipulasi akal. Semuanya
tak aku hiraukan terlalu berlebihan. Aku benci keadaan ini. Kenapa semuanya
berujung seperti ini. Aku lebih baik tidak tahu apapun tentang hal ini. Aku
ingin menelannya rapat dan bulat. Aku senang berada dalam keadaan penuh
kepenasaran ini. Baiklah. Aku akan hiraukan semuanya.
Apakah ini yang dinamakan orang sebagai selingkuh hati?
Setiap pagi saya mengintip kamarnya di balik jendela. Saya sekedar ingin
mengetahui apakah pagi ini dia pergi keluar atau tidak. Hanya itu saja, tak
lebih. Tapi kenapa sesekali hati saya seakan patah dibuatnya. Saat ia keluar
dengan riang gembira dan menyapa seseorang yang berdiri manja di depan
pintunya. Kalau mereka berdua pacaran, apa salahnya? Tapi kenapa hati ini bisa
patah dibuatnya? Padahal sudah lama saya tidak merasakan perasaan seperti ini.
Enam tahun ini saya hidup dalam keharmonisan. Saya memiliki
pasangan yag sangat sempurna bagi saya. Dia adalah seseorang yang sudah
mengerti saya luar dan dalam. Tapi ada apa dengan kami di tahun keenam ini?
Apakah ini sepenuhnya kesalahan saya? Nampaknya akar masalah ini tidak
sesederhana apa yang saya pikirkan.
Orang bijak berpendapat jika tidak selamanya cinta itu akan
menampakkan muka indahnya. Tidak seperti bulan yang selulu menyembunyikan sisi
gelapnya. Saya menyadari hal itu sejak dulu. Memang ada sejuta hal manis dan
pahit dalam hubungan kami. Tapi kali ini masalahnya terasa paling pahit
diantara semua hal pahit. Mungkinkah cinta telah menemui titik zenith-nya?
“Puncak dari cinta itu adalah perpisahan. Bisa itu kematian,
perceraian, atau yang paling sederhana, putus” seseorang pernah berujar itu
kepada saya. Di akhir percakapan kami saat hujan mengurung langkahku. Saat ia
pergi dengan seseorang lain.
“Bagiku puncaknya adalah mengetahui kamu sudah ada yang
memiliki” Tegasku dalam hati.
Aku menunggunya pagi ini. Seperti biasa. Duduk di mejaku
sembari memandangi meja kebesarannya. Hari ini adalah hari terakhir pelatihanku
di jakarta. Hari yang tidak pernah ingin kutemui sebenarnya. Tapi apa mau
dikata. Seseorang menungguku di kota lain. Seseorang yang berarti kenyataan.
Kenyataan yang entah akan berujung pahit atau manis. Entahlah.
“Masih menunggu hujan reda?” Tanya seseorang yang sudah saya
kenal benar suaranya. Suara yang akhir-akhir ini selalu saya tunggu
kehadirannya berdendang di gendang telinga. Dan kami saat ini terjebak kembali
dalam kondisi ini. Situasi bernama hujan.
“Oh... kamu rupanya. Hemm... kali ini tidak. Saya hanya
ingin menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh di buminya. Saya tidak tega
mengharapkan ia berhenti menemui peraduannya. Tanah” Benar. Malam ini saya
hanya ingin merefleksikan diri saya pada genangan. Meski malam ini gelap. Tapi
saya masih bisa lihat pantulan wajah saya pada genangan di depan teras kosan. Cahaya
temaram lampu pijar membuat peristiwa optik itu terjadi dan menjadikannya lebih
dramatis. Saya melihat wajah yang sedang kebingungan. Wajah yang menunggu
jawaban pasti dari seseorang yang sedang jauh di sana. Besok mungkin wajah
tersebut akan menemukan kepastiannya. Saya sedikit menghiraukan kehadiran teman
kosan saya yang selalu saya tunggu kehadirannya. Dia kemudian terlihat duduk
tepat di samping saya. Memandangi genangan air hujan.
“Yuhuuuu, Bankir juga kenal yang namanya kalimat indah ya?”
tanyanya sambil menunjuk ke bayangan wajah saya yang terbentuk di genangan air.
“Bukan hanya mengenal sebenarnya. Tapi saya paham bagaimana
mengungkapkan perasaan” Ujar saya singkat.
“Begitukah? Saya rasa Anda kurang bisa. Itu sih menurut
analisisku lo...” Tanya dia balik. Dengan nada yang sinis dan introgatif.
“Haha, analisis macam apa yang kamu gunakan?” Saya tidak
habis akal. Saya jawab pertanyaan introgatifnya dengan balik bertanya kepada
dia dengan pertanyaan yang tak kalah introgatif.
“Analisis pura-pura tidak tahu saat ada seseorang memata-matainya
dibalik jendela” Dia menjawab dengan lugasnya. Tak ada beban. Sedikit membuatku
bingung. Tapi setelah dipikir-pikir, saya benar-benar merasa diintrogasi.
Sebagai terdakwa utama. Dia memang anak hukum yang sangat ulung.
Dan ritme debaran pun kembali meningkat. Ia datang dengan
langkah tegapnya. Membuatku berdiri membatu, tak tahu harus melakukan apa.
Apakah aku harus langsung mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan? Apakah
tidak terlalu frontal jika aku melakukan hal seperti itu saat ini?
“Selamat pagi, Pak” Sapaku padanya yang terlihat segar.
Selalu. Terpujilah Tuhan untuk ciptaan-Nya yang satu ini. Wajah yang selalu
tampak menggembirakan.
“Selamat pagi” dan sungguh syahdu terdengar. Membuatku lupa
segalanya untuk sejenak. Tapi...
“Ada apa dengan wajahmu? Terlihat ada sesuatu yang kamu
sembunyikan dari saya?” Benarkah? Apakah semuanya tampak begitu jelas? Tidak
ada penjelasan untuk pertanyaan itu. Aku menyerah.
“Apakah nanti siang bapak punya waktu? Saya ingin
membicarakan sesuatu hal dengan bapak” Aku benar-benar tidak bisa
menyembunyikannya lagi. Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhir bagi kami.
Aku harus tau perasaannya. Dia pun harus tahu perasaanku yang sebenarnya.
“Ok. Selalu ada waktu untuk kamu. Tunggu saja saya di kantin
saat makan siang” Jawabnya singkat sambil bergegas menuju meja kebesarannya. Jawaban
yang kembali membuatku melayang ke langit kedelapan. Kalau pun memang ada.
“Apa yang akan kamu pilih? Terjebak perasaan atau dijebak
perasaan?” Tanya dia padaku yang masih kaget dengan pernyataannya barusan.
“Terjebak. Menurut saya, kata terjebak berarti
ketidaksengajaan. Sedangkan dijebak seolah-olah saya sebagai korban” Jawab
saya. Saya tak tahu jawaban seperti apa yang ia harapkan. Bahkan saya tidak
mengerti kenapa dia mengutarakan pertanyaan semacam itu.
“Haha. Begitu ya? Bagiku dua-duanya itu korban. Korban
perasaan. Tapi sebenarnya seseorang yang punya keteguhan hati tidak akan pernah
mengalami dua situasi itu. Dia akan senantiasa bertahan dari jebakan perasaan.
Karena dia tahu bagaimana cara bermain dengan perasaan yang benar. Semisal
berkenaan dengan cinta, ia tak pernah berpaling kiri kanan saat ia memiliki
orang yang ia cintai. Dia tak akan pernah terkena jebakan cinta.” Jelasnya
panjang lebar dan saya semakin bingung.
“Apakah penjelasanmu itu ditujukan untuk saya?” Tanya saya
padanya. Saya takut semuanya menjadi tidak jelas.
“Dia itu temanku, Mas. Aku tidak ingin menjadi duri dalam
hubungan kalian” Aku mengerti sekarang arah dari percakapan kami saat ini. Saya
benar-benar didakwa olehnya. Dan seharusnya saya memang cepat tersadar. Tidak
lagi terjebak atau dijebak perasaan.
“Maafkan saya untuk hal itu. Saya khilaf” saya hanya bisa
menunduk di hadapannya. Bak anak kecil yang ketahuan sudah memecahkan vas bunga
kesayangan ibunya.
“Saya mengerti masalah kalian. Dia juga sempat cerita
tentang hubungan kalian, kemarin. Perjuangkan cintamu, Mas. Masih ada harapan”
Ujarnya sambil meninggalkan saya yang duduk tertunduk di sampingnya.
“Besok” Jawab saya singkat.
Tiba-tiba dia memeluk saya. Erat. Saya rasakan suatu getaran
yang berbeda. Ingin sekali hasrat ini menolak. Tapi apa daya. Semuanya terjadi
mengalir seperti air.
“Sebenarnya aku senang bermain dengan api, Mas” bisiknya lembut pada saya.
Dag dig dug. Perasaanku tak menentu. Percaya atau tidak,
sebenarnya aku tidak yakin dengan penjelasan yang akan aku ungkapkan kepada dia
siang ini. Apapun yang akan terlontar kemudian, itulah jawabannya. Aku sedang
bermain judi dengan perasaan. Perasaan akan sosok yang kini sedang berjalan
tegap menuju meja tempatku menunggunya.
“Selamat siang” Sapanya manis kepadaku. Memang selalu
begitu. Manis.
“Siang, Pak” Balasku lugas sembari berdiri menyambutnya. Kemudian
dia mempersilahkanku untuk duduk kembali dengan bahasa tubuhnya.
“Sudah memesan makanannya?” Tanyanya padaku. Memang niatku
kesini bukan untuk makan siang bersama dia. Aku hanya ingin mengutarakan
perasaanku.
“Belum, Pak. Saya tidak mau mengganggu jam makan siang
bapak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu. Saya hanya perlu waktu lima menit
untuk menjelaskan semuanya” Jawabku seakan ingin sekali semuanya cepat
berakhir.
“Baiklah kalau begitu. Silahkan” Kesempatan seakan semakin
dekat. Jelas terlihat. Baunya sudah tercium tajam. Tapi.....
“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang
sebanyak-banyaknya atas bimbingan bapak selama kurang lebih lima minggu ini”
Entah hal apa yang membungkamku untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Tiba-tiba
aku tersadar bahwa ini hanyalah sebuah kekonyolan. Aku sudah punya pacar dan
lelaki yang ada di hadapanku hanyalah sebuah bintang yang tak akan pernah
tercapai. Aku bukanlah ciderella yang mengharapkan seorang pangeran berkuda
menjemputku tepat di halaman. Aku hanyalah korban perasaan. Terjebak halusinasi
keadaan.
“Sudah?” Tanyanya padaku polos. Dia memang polos. Sepolos aku
yang tidak menyadari bahwa ia memang ramah kepada semua orang. Bukan hanya
padaku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Tak ada kata-kata lain yang
sanggup aku ucapkan.
“Jika hal itu yang ingin kamu sampaikan. Saya akan balik berterimakasih
atas kesan baik yang kamu tinggalkan.”
Aku meninggalkannya sendiri. Tidak sopan memang. Mungkin kesan
dia terhadapku selama ini akan berubah drastis setelah kejadian ini. Aku berjalan
gontai meninggalkan mimpi di siang bolong. Aku harus berani hadapi kenyataan. Kenyataan
dimana aku telah bermain-main dengan hati dan akan mempertanggungjawabkannya
besok. Saat aku bertemu lagi dengannya. Lelaki di kota Bandung.
Aku melihatnya dari kejauhan.
Seorang wanita datang menghampiri pria yang sedari tadi aku amati lekat di
balik pintu loteng. Pria yang selama setahun ini mencuri perhatianku. Pria yang
sebenarnya haram bagiku untuk kucintai. Pria yang sudah menjadi belahan hati
sahabatku; seorang wanita yang sekarang duduk di sampingnya.
Saya mematung sendiri. Lama sekali. Berkawan angin sore dan
langit yang menjingga. Saya tidak akan menunggunya lagi. Semuanya pasti akan
berakhir tepat pada waktunya.
“Selamat sore” Sapa seorang wanita di belakangku. Suaranya
berinterferensi sejalan dengan jaraknya yang mendekat. Saya tahu siapa wanita
yang memiliki suara itu. Suara yang sudah lama tak saya dengar.
“Sore” Jawab saya lugas. Cenderung terdengar ketus. Apa yang
ada dalam pikian saya. Ini adalah hari pertama saya bertemu dengan dia lagi.
Harusnya saya senang. Meluap. Tapi kenyataannya saat ini saya merasa biasa
saja.
“Apa kabar Bandung?” Tanyanya dengan intonasi yang antusias.
Sembari duduk bersila di atas lantai loteng, di sampingku.
“Bandung mendung sebulan ini. Entah, padahal bulan
sebelumnya Bandung cerah-cerah saja” Jawab saya sembari melihat wajahnya yang
cerah ceria. Manis, tak lagi pucat.
“Jakarta pun demikian” Sungguh manis parasnya. Wajahnya cerah
menjingga. Tersapu langit yang memang merah saat itu. Apakah aku tega?
“Aku punya cerita tentang hujan” Aku mencoba untuk
mengelaborasi keadaan. Aku ingin dia menerimanya tanpa luka. Perlahan-lahan. Meski
hampir tidak mungkin. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.
“Apakah itu?” Wajahnya berpaling menengadah ke muka saya.
Rautnya sedikit menyurutkan semangat saya untuk mencoba.
“Aku tidak akan menunggu hujan reda dengan cepat. Aku akan
membiarkannya. Menunggu rangkuman yang akan ia sajikan di ujungnya” Jelas saya masih
dengan intonasi yang tenang, cenderung datar.
“Maksudnya?” Tanya dia lagi.
“Enam tahun memang bukan waktu yang pendek untuk sebuah
hubungan. Kamu mengerti perasaan saya kan?” Saya lihat wajahnya menunduk. Seakan
angin telah sampaikan hal apa yang sebenarnya belum saya ungkapkan kepadanya. Dari
tadi angin telah menguping selama saya bergumam dalam kesendirian. Angin... oh
angin...
“Saya menyadari cepat atau lambat hujan akan reda. Perasaan
pun sedikit demi sedikit akan surut. Selama ini saya terus menerus menunggu
hujan reda. Tapi semuanya ternyata tidak untuk ditunggu. Semuanya akan berakhir
sendiri. Pun cinta. Suatu saat ia akan surut. Cepat atau lambat, tanpa
ditunggu. Tidak bisa direkayasa baik kedatangannya atau pun kepergiannya” Saya
jelaskan panjang lebar. Bagai pembunuh berdarah dingin, datar tanpa merasa
berdosa. Tapi cepat atau lambat memang harus seperti ini. Tidak bisa ditunda. Saya
tidak mau membiarkannya terjebak atau dijebak perasaannya sendiri. Sebuah sandiwara
berskala besar. Saya sudah tidak mencintai wanita yang ada di samping saya saat
ini. Setahun terakhir ini saya hanya berusaha menggenggam hati agar lima tahun
perjuangan mewujudkan cinta bisa saya pertahankan. Tapi ternyata, semuanya
sia-sia.
“Hubungan kita pun berakhir? Enam tahun akan berakhir sore
ini?” Tanyanya sembari masih tertunduk dengan suara sedikit terisak. Saya mengerti
perasaannya. Sungguh.
“Maafkan saya” Saya memeluk tubuhnya erat. Lekat seakan tak
ingin berpisah di saat saya tahu bahwa sore ini semuanya akan berakhir. Cerita indah
selama beberapa tahun terakhir dengan dia tak semudah ini hilang begitu saja. Meskipun
proses untuk sampai di tahap ini memang tidak secepat yang ia pikirkan. Mungkin.
Dan langit pun mulai temaram. Menutup hari. Menutup cerita
cinta kami.
Seseorang terlihat tersenyum dibalik pintu loteng. Saya
pun membalas senyumnya. Cinta baru akan segera saya gapai. Meskipun saya harus
terjebak atau malah dijebak perasaan olehnya. Kami berdua sangat siap untuk
bermain api. Menemui tantangan untuk mewujudkan cinta kami.


suka banget sama cerita yang ini... :D
BalasHapus