Menurut orang
Menurutku impian
Aku adalah elang
Menyendiri, hilang, dan dilupakan
Namaku Paik Wiguna. Lajang berusia 30 tahun yang sempat
punya segalanya. Menurut semua orang yang mengenalku. Jika ada seseorang yang
bertanya padaku tentang hal apa yang belum aku capai maka dengan tegas orang
yang mengenalku akan menjawab bahwa aku sudah mencapai semuanya. Aku lulus
sebagai salah satu dari 25 lulusan terbaik dari sekolah bisnis terkenal di inggris.
Dan setelah 5 tahun menjejal keberuntungan untuk menjalankan bisnis travel di
Indonesia, akhirnya aku bisa mengantarkan bisnisku ini ke puncak kejayaannya.
Bisnis travelku sudah merajai pulau Jawa. Cukup untuk membuatku hidup mewah
tanpa bekerja selama 100 tahun. Ya, sekilas semuanya tampak sempurna. Tapi jauh
di lubuk hatiku, semuanya fatamorgana. Aku menginginkan suatu hal yang tak bisa
aku gambarkan. Suatu bisikan hati yang tidak dilengkapi sebuah deskripsi. Mati.
Sesuatu yang tak pernah aku dapatkan sampai-sampai aku kehilangan akal sehatku.
Gila.
“Apa lagi?” Tanya ketus rekanku, Arya.
“Damai” Jawabku
“Klise” sergah Arya tak kalah ketus
“Apakah kamu tahu apa yang hendak kamu capai dalam hidup
kamu?” Aku balik bertanya padanya yang tertegun kerung tepat di hadapan mukaku.
“Kedigjayaan, harta, dan cinta. Dan sadarkah Anda? Anda
sudah memiliki semuanya. Sudahlah kawan… Carilah sesuatu yang realistis. Jangan
mencari sesuatu yang kau sendiri tak bisa deskripsikan” Jawabnya tangkas.
Aku hanya tersenyum pada Arya. Dia adalah rakanku yang
selalu berpikir sederhana. Hidup baginya adalah kesenangan. Kesenangan yang
dengan mudah bisa ku buat hanya dengan menjentikan jari telunjuk. Jadilah! Maka
kesenangan pun terwujud seketika.Tapi buat apa? Aku menjadi gila karenanya.
“Hidup itu sekali sebelum kita mati” Itulah penjelasan
singkatnya saat aku bertanya tentang arti hidup baginya. Sesederhana itukah?
Dan dunia gelap saat Arya menutup kedua mataku dengan
selembar kain.
Aku pun terbang.
***
Desir angin berbalut api
Salam dari neraka untuk para pendusta agama
Bagi kaum yang tak pernah yakin dengan apa yang ia yakini
Untuk ia yang selalu merasa sendiri
Tanpa Tuhan
Kamis pagi, Kepalaku tiba-tiba pusing tak terkendali. Bukan
karena hawa dingin atau ribuan pasir yang menerpa mukaku seketika saat angin
berhembus kering, tapi karena saat ini aku berada di ketinggian kurang lebih
3700 meter di atas permukaan laut. Tubuhku yang terbiasa hidup di daerah nol meter
dari permukaan laut seakan kaget mendapati keadaan ekstrim seperti ini. Saat
ini aku mungkin berada di wilayah perbatasan antara lapisan troposfer dan
stratosfer. Tinggi sekali. Saat ini aku sedang terbuai dalam rayuan hipoksia di
sebuah atap dunia, Tibet.
Sehari sebelum aku mencapai bukit Merah, aku singgah di kota
Lembah Lasha. Suasananya sangat tenang dan damai. Aku bisa melihat Tuhan di
setiap sayup mata sipit dari penduduk sekitar. Inikah arti dari penghambaan?
Mayoritas masyarakat Tibet menganut agama budha. Aroma
tantraisme disana sangat pekat. Tantra
berkaitan dengan praktik-praktik spiritual dan bentuk-bentuk ritual ibadah yang
bertujuan pada pembebasan dari kebodohan dan kelahiran kembali, alam semesta
yang dianggap sebagai permainan ilahi Shakti dan Siwa.
Hampir setiap peristiwa,
baik yang penting maupun yang kurang penting menurut manusia pada umumnya,
dilengkapi dengan sebuah ritual. Termasuk sebuah kelahiran. Tantraisme
mengajarkan masyarakat Tibet tentang konsep reinkarnasi.mereka percaya bahwa
kehamilan merupakan proses kelahiran kembali seseorang yang berada dalam masa
lalu mereka. Hidup bagi mereka bukan sekedar sekali dan sederhana seperti yang
disampaikan Arya padaku. Bagi mereka hidup itu siklus. Hidup kemudian mati
kemudian hidup kembali dan seterusnya. Dan aturan beratnya adalah engkau yang
“hidup tidak baik” di masa lalu akan mengalami “hidup tidak baik” di masa
selanjutnya.Sebuah kutukan.
“Berbeda dengan kematian.
Ritualnya tragis. Tak ada upacara penguburan atau pembakaran mayat. Yang ada
adalah penghancuran kepingan tubuh lalu dibiarkan begitu saja untuk dimakan
burung gagak yang kelaparan” Jelas local
guide pada kami, rombongan wisata Tibet, yang tercengang karena melihat
potongan jasad manusia dibiarkan begitu saja untuk dimakan gagak-gagak kelaparan.
Memang tragis. Sebuah bagian siklus hidup yang hina menurutku. Tapi itulah
hidup bagi mereka. Suatu saat akan terulang. Damaikah? Aku belum
mendapatkannya. Mata sayup bernafaskan Tuhan dan berharikan ritual belum cukup
membuatku damai. Tibet bukanlah pijakan terakhirku.
***
“Apakah aku sudah berada di surga?” bisikku saat aku mulai
membelalakan mata. Tak ada lagi hembusan angin kering yang menerpa wajahku, tak
ada pula tenda berwarna biru tua yang menjadi atapku. Semua tampak putih. Bagai
di surga.
“Anda tidak bisa melanjutkan perjalanan, Tuan” suara
samar-samar mendengung di telingaku. Suaranya asing.
“Apakah anda malaikat firdaus?” tanyaku terbata.
“Hehe, bukan Tuan. Saya teman dekat Anda. Saya besok akan
mengantarkan Anda kembali ke Jakarta” Jawabnya lugas. Suaranya sudah bisa
beresonansi sempurna di telingaku. Jelas.
“Apakah di Jakarta saya bisa bertemu Tuhan?” Tanyaku balik
padanya.
Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yang kulihat adalah
kerutan tegas di dahinya. Defisiensi oksigen membuatku berhalusinasi sekuat
ini. Berhalusinasi tentang Tuhan dan janji surganya.
***
Malamnya tenang dan muram
Tak terlihat bintang disapukan di jagad semesta
Gelap.
Mudah-mudahan semuanya berarti damai
Untukku
“Apa arti Jerusalem menurutmu?” tanyaku kepada seseorang
berkulit hitam yang akan menjadi teman kamarku untuk satu minggu ke depan.
“Secara etimologis, Jerusalem berarti kota damai” Jawabnya
singkat dengan suara yang halus menenangkan. Bagiku suaranya adalah kedamaian.
“Maksudku, tadi katamu kamu mengunjungi kota ini minimal
setahun sekali. Menurutku itu luar biasa. Pasti ada alasan dibaliknya. Makanya
aku bertanya apa arti Jerusalem untukmu?” Aku bertanya seolah ingin menemukan
jawaban yang aku inginkan.
“Selama ribuan tahun manusia datang ke sini untuk bertemu
dengan Tuhan...Jerusalem dipercaya sebagai pintu gerbang menuju surga. Belum
pernah tercatat dalam sejarah satu kota suci pun yang lebih lama dihormati
secara terus menerus seperti Jerusalem. Jerusalem disaktikan sebagai tempat
berdirinya Bait Allah dan tempat-tempat suci umat Kristen. Jerusalem juga
merupakan kota suci umat Islam yang ketiga setelah Mekkah dan Medina. Dalam
abad pertengahan, nama Jerusalem tercantum dalam peta sebagai kota yang paling
terkenal di dunia.Tak ada satu kota pun yang mendapatkan perhatian dari dunia
sedemikian besarnya. Bukankah itu alasan yang cukup luar biasa?” Jelasnya
panjang lebar dan aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan
singkatnya. Dia hanya tersenyum. Senyumnya damai.
“Saya adalah seorang biarawan di salah satu gereja di Maluku.
Tapi jujur, saya belum menemukan hakikat pengabdian saya” Entah alasan apa yang
membuat dia menceritakan hal setabu itu padaku. Dia terlihat sesegukan,
menangis sejadi-jadinya. Dia mungkin merasa telah melakukan dosa yang amat
besar.
“Tuhan pasti akan menunjukkan kekuasaan-Nya padamu” Jawabku berlaga
bijak kepada Jerome yang namanya baru saja aku tahu dari name tag yang dikenakannya. Padahal aku sendiri tak bisa mengerti
dengan benar konsep etiologi. Aku bingung sendiri.
Butiran air mata jatuh di kedua
ujung mataku menemani ia yang sedang merasa terjerat dosa.
***
Hari Kamis, setelah menikmati makan pagi, kami mulai melakukan
ziarah hari pertama di Jerusalem. Dengan mengendarai bus wisata, rombongan kami
menuju ke Kolam Betesda. Jarak yang ditempuh sekitar 45 menit dari hotel tempat
kami menginap. Sepanjang perjalanan mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan
dengan antusias. Dan aku? Diam tak bergumam.
Pada masa pelayanan Tuhan Yesus di Yerusalem, kolam ini
terletak di luar tembok utara kota. Namun saat ini kolam ini terletak di dalam
tembok Yerusalem dan dipugar kembali dekat Pintu Gerbang Domba yang mengarah ke
Bait Suci. Sekitar 20 abad yang lalu, kolam ini dipercaya apabila sewaktu-waktu
ada malaikat Tuhan turun untuk menggoncangkan airnya, maka siapapun yang
pertama kali masuk ke dalamnya akan mendapatkan kesembuhan, apapun juga
penyakitnya. Namun, selama berabad-abad kolam ini akhirnya terkubur di bawah
reruntuhan dan ditemukan dalam penggalian White Fathers. Kolam ini berbentuk
persegi panjang dengan ukuran 350×200 kaki dengan kedalaman 25 kaki,
dikelilingi pada setiap empat sisinya dengan serambi-serambi dan serambi yang
kelima berada di tempat yang terpisah.
Sekalipun peninggalan dari Kolam Betesda ini hanya berupa
puing-puing reruntuhan dan sudah tidak ada lagi airnya, namun beberapa mujizat
juga tetap terjadi di tempat ini bagi orang-orang sakit yang dengan
sungguh-sungguh hati percaya dan berdoa kepada Tuhan Yesus. Setibanya di Kolam
Betesda, kami mendapatkan penjelasan singkat dari Guide lokal kami lalu kami
mengadakan ibadah sambil menaikkan lagu pujian “Mujizat itu Nyata”. Apakah
penyakit “Kurang Damai” bisa disembuhkan di tempat ini? Mudah-mudahan saja.
Beranjak dari kolam Betesda, kami singgah di sebuah gereja
yang bernama St. Anne Church yang didirikan di lokasi tempat kelahiran
Bunda Maria. Gereja ini merupakan salah satu gereja peninggalan Ksatria Perang
Salib dengan arsitektur yang sangat baik, utamanya di bagian interior gereja
ini dibangun demikian rupa sehingga dinding-dindingnya memantulkan tata suara
yang baik ketika menaikkan suatu lagu pujian. Setelah itu, kami menuju ke Bukit
Sion yang terletak di bagian barat daya tembok kota tua. Pada zaman dahulu,
daerah ini termasuk bagian dalam kota kuno Yerusalem. Daerah bukit Sion ini
merupakan situs di mana Yesus melakukan perjamuan malam terakhir bersama
murid-murid-Nya. Bagi bangsa Yahudi, tempat ini berhubungan dengan makam Raja
Daud yang sangat dihormati di Israel. Sebelum menuju ke Ruang Perjamuan Makan
Terakhir dan makam Raja Daud, kami melakukan ziarah ke Gereja Santo Petrus di
Gallicantu atau yang juga dikenal dengan Gereja “Kokok Ayam”
Penjelasan demi penjelasan terus mengalir dari local guide rombongan kami. Aku melihat Jerome
sangat antusias dan sesekali menyekat air mata yang terus mengucur deras. Tapi
aku? Tidak. Kenapa? Aku langsung menarik keluar diriku dari rombongan. Aku
memutuskan untuk mengakhiri kegiatan ziarah ini.
“Kamu mau kemana?” Tanya Jerome padaku.
“Aku akan kembali ke Indonesia secepatnya” Jawabku singkat
“Kenapa?"
“Aku bukan hamba yang baik. Tidak sepantasnya aku di sini”
Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir hitam manisnya.
Dia hanya menyimpulkan senyum pasi. Sebuah senyum yang tak aku mengerti apa
maksud utamanya. Yang jelas senyum itu bermakna damai Bagiku.
***
“Sudah kau temukan damaimu?” Tanya Arya padaku yang sedang
tertegun di kegelapan.
“Mudah-mudahan tempat ini menjadi tempat yang damai bagiku”
Aku menjawab sembari menunjuk ke foto di samping jendela.
“Toulouse?” Tanya Arya bingung
“Iya”
***
Berjalan Gontai di antara ratusan orang yang berjalan dengan
cepat. Mereka mengejar waktu. Waktu yang tak akan pernah terkejar karena ia tak
akan pernah satu detik pun menunggu. Ia tak akan lelah, kalian yang akan lelah.
Sepertiku saat ini. Lelah dan jetlag setelah
kurang lebih 12 jam menempuh perjalanan di atas awan dari Jakarta ke Prancis.
Kamis, Baru saja aku tiba di bandara Toulouse Blagnac. Bandar
udara yang terletak di selatan daerah Blagnac dan di barat laut kota Toulouse.
Bandara yang cukup besar dan megah. Bandara yang bukan hanya tempat datang dan
perginya pesawat penumpang. Tapi bandara ini merupakan tempat dibuatnya pesawat
Airbus. Besar. megah.
Entah hal apa yang membawaku ke
kota ini. Tapi yang pasti, alasan yang sama saat aku pergi ke Tibet dan
Jerusalem lah yamg membawaku ke tempat
ini.
Aku berjalan di kota yang lumayan unik ini. Kota yang tampak
harmonis, tepatnya serupa. Hampir semua bangunan disana memiliki gaya
arsitektur yang sama. Tak hanya itu, bangunan-bangunan itu berwarna sama. Merah
muda. Sejauh mata memandang, spektrum warna merah muda membakar kornea mata
ini. Indah tapi sedikit membosankan. Itulah hidup.
Aku duduk di salah
satu bangku yang sengaja ditempatkan berjajar di pinggir sungai yang aku tidak
tahu apa namanya. Sungai yang indah dan bersih. Sungai yang bermuara di laut
mediterania ini mengalir dengan pasrah. Molekul-molekul air tak sedikitpun
berusaha untuk melawan arus. Mereka hidup menuruti takdir. Maka dari itu
kedamaian pun tercipta. Bosan? Entahlah.
“Quel est votre nom?”
seorang pria seumur denganku tiba-tiba duduk di sampingku dan mengutarakan
kalimat yang asing bagiku, tapi….
“Paix Wiguna”
jawabku tak terkendali. Entah bagian otak mana yang bekerja ada diriku saat
ini. Dengan yakinnya aku menjawab pertanyaan itu.
“Joli nom” dia
tersenyum padaku
“Merci” jawabku tegas. Otakku berpikir keras. Dan tak pernah
ada jawaban logisnya.
“Où venez-vous?”
tanyanya kembali padaku
“Indonesia”
“Oh jadi kamu orang Indonesia ya?” tanyanya sambil tersenyum
lebih lebar. Dia menjelaskan bahwa dia adalah imigran dari Indonesia. Dia sudah
tinggal di Toulouse selama kurang lebih 20 tahun semenjak ia jadi mahasiswa dan
bekerja di sana.
“Dan saya adalah seorang muslim” Jelasnya dengan kepala
sedikit tertegun menunduk.
“Ada masalah dengan keyakinan Anda?” Tanyaku berani padanya
“Di sini agama menjadi hal yang sensitif. Apalagi kalau Anda
menjadi penganut agama minoritas di sini. Putriku meninggal karena hal sensitif
itu dua tahun yang lalu. Dan tahukan Anda apa yang saya rasakan saat ini? Saya
menjadi ragu dengan apa yang saya imani saat ini. Keyakinan saya telah
merenggut hal yang saya cintai di dunia ini” Terlihat lapisan air mata di kedua
kornea nya yang sengaja tak ia jatuhkan. Ia menahan semua dukanya dalam-dalam.
Dan satu hal yang saya pertanyakan dalam hati,
“Mengapa Anda menjelaskan hal itu pada saya?”
Saya kemudian bergegas meninggalkan kursi tempat dia sedang
tertegun. Saya merasa harus segera pulang.
“Pulanglah segera dan syukuri apa yang telah kau punya
sebelum Anda kehilangan semuanya. Anda akan menemukan kedamaian saat Anda
mensyukuri apa yang Anda punya. Agama Anda yang akan menentukan bagaimana cara
untuk bersyukur yang paling tepat” Jelasnya dengan muka yang masih menunduk.
Aku pergi meninggalkannya sendiri di pinggir sungai yang
tiba-tiba menjadi lautan air mata maha luas. Aku berlari menuju bukit sebelum
hanyut dan tenggelam. Aku pergi menuju langit.
***
“Bagaimana kota Toulousenya?” Tanya seseorang yang suaranya
tak asing lagi bagiku. Arya.
Aku hanya menjawabnya dengan simpulan senyum dari bibirku.
Ia kemudian membuka penutup mata yang selama berjam-jam ini menutup kedua
mataku. Penutup mata yang Arya percayai akan membantuku untuk berimajinasi
lebih dalam.
“Bagiku kota Jerusalem adalah kota yang paling cocok untuk
mendapatkan kedamaian” Jelasnya sambil memijat-mijatkan tangannya di pundakku. Arya
pernah menjadi penganut katolik yang sangat taat. Saat masih remaja bahkan ia
sempat bercita-cita menjadi biarawan di kota kelahirannya, Maluku, sebelum akhirnya
dia mengalami hal yang tidak ia inginkan. Semua keluarganya terbunuh saat
kerusuhan antar agama yang terjadi beberapa tahun yang lalu di kota Maluku.
Keimanannya goyah. Bahkan ia berganti nama. Dari Jerome menjadi Arya. Semua ia
lakukan untuk menyembunyikan identitasnya. Persembunyian yang membawanya
menjadi seorang Atheis yang taat akan keatheisannya. Sama sepertiku. Aku
kehilangan semua kesempurnaan yang aku miliki dalam sekejap mata. Kehilangan
berlebihan yang membuatku seperti saat ini.
“Beberapa hari saya menutup mata saya sendiri dengan kain
ini. Dan perang pun tak lagi saya lihat. Saya hanya melihat damainya surga”
Jelasnya tanpa pernah aku Tanya. Kami terdiam. untuk beberapa saat tak ada
percakapan.
“Ok, sesi imajinasi untuk hari ini cukup. Minggu depan kita
lanjut lagi” Jelas Arya padaku.
Sesi imajinasi merupakan salah satu sesi yang Arya ciptakan
untukku tiap hari kamis . Sesi buatan ini membawaku pergi ke tempat-tempat yang
dalam dunia nyata tak akan pernah aku kunjungi. Sesi yang membawaku ke jawaban
atas pertanyaan besar yang membuatku seperti ini. Saat ini.
Ini adalah tahun ketiga aku berada di Rumah Sakit Jiwa
“Damai”. Setelah aku kehilangan semua hal yang sempat aku raih dengan sempurna
di usiaku yang masih muda saat itu. Tempat yang kata orang merupakan tempat
bagi orang-orang dengan gangguan mental. Tapi bagiku, ini adalah tempat dimana
aku bisa menemukan kata “DAMAI” yang selama ini aku cari, sesuai namanya. Damai
yang tak pernah aku dapatkan saat aku kaya raya luar biasa. Meskipun, sampai
saat ini aku belum mendapatkannya. Tapi bersama Arya, rekan sesama pasien, aku
akan terus berusaha mencari kedamaian dengan kain penutup mata ajaibnya.
“Meskipun damai itu ada di hati kamu, bukan di tempat
lainnya” Jelas Arya padaku.
Imajinasi membuatku terkapar di sini
Tempat dimana aku tak pernah merasa sedamai ini
Surga
Di dunia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar