Bandung mendung di pagi hari. Jam lima subuh yang biasanya
sudah dilengkapi dengan pijaran sinar sang surya sekarang seakan tenggelam
dalam kabut sendiri. Ganjil. Sudah lima hari, kalau aku hitung, cuaca Bandung
sedang basah-basahnya. Sudah dingin tambah dingin. Menggigil. Sangat malas
untuk sekedar beranjak dari gulungan selimut yang memintal perut. Apalagi harus
membasuh muka dan mengguyur sekujur tubuh. Tapi…. Hari tak akan lengkap tanpa
mandi. Setidaknya kebiasaan baik itu yang tetap aku pertahankan sampai saat
ini. Meski menggigil, menusuk, dan membuatku tertegun untuk beberapa kali dalam
setiap guyuran air.
“Kamu mau naik angkot lagi, Van?” Sapa wanita paruh baya
tercantik di dunia yang berdiri anggun di depan kompor yang sedang menyala.
Aroma biji pala dan merica dari sup iga yang sedang ia panaskan menyeruak ke
sendi-sendi hidung.
Aku mengangguk kecil dan duduk.
Namaku Houvan De Regen. Nama yang sangat aneh untukku dan untuk orang-orang di sekitarku. Kecuali mamah dan bapakku yang nampak nyaman dengan
nama yang mereka berikan pada anaknya.
“Emang Houvan De Regen artinya apa sih, Pak?” Tanyaku pada bapak beberapa minggu yang lalu setelah pemikiran dan kegelisahanku selama ini.
Krik… krik… krik… Bapakku berhenti mengunyah untuk beberapa
saat.
“Ada yang aneh dengan pertanyaanku? Apakah aku menyinggung
hati bapakku karena seakan mempertanyakan hal dasar yang ia telah berikan
padaku, sebuah nama?” bisikku dalam hati. Dalam tatapan nanar kosong, aku tatap
wajahnya. Seakan aku mengintimidasi dia untuk segera menjawab.
“Hemmm… apa yah,
Mah? Bapak kok lupa alasan kenapa bapak ngasih nama itu sama Ovan?” Jawab
bapakku datar dan polos.
“Astaga…. Aku ini anak satu-satumu, Pak. Masa bapak lupa
alasan kenapa bapak ngasih nama ke anak satu-satumu ini????” Bapak sudah
berhasil membuat aku geram. Meski dalam hati.
“Sudahlah, ayo cepet makannya, sebentar lagi hujan. Mamah
mau tidur” Itulah mamahku, selalu ngeles untuk mengakhiri masalah yang memang
mungkin tidak ada jalan keluarnya. Meskipun kadang ngelesnya berlebihan dan
tidak nyambung. Hujan dan tidur? Apa coba korelasinya?
Tapi pagi ini setidaknya aku sudah berusaha mempertipis
kadar keingintahuanku akan asal mula dan makna dari namaku. Bagiku saat ini
hidupku sudah cukup bahagia, seorang lajang dengan kerjaan tetap dan keluarga
yang bahagia. Meski…..
“Sobatmu yang nikah minggu depan tuh siapa, Van?” Tanya
mamahku datar. Datarnya kalimat itu serasa meruncing. Seakan kalimat itu
dipertajam intensitasnya saat sampai di telingaku.
“Reno, Mah. Dia nikah sama temen TK-ku loh…” Aku berusaha
untuk tetap tegar menghadapi kenyataan ini.
“Iya mamah tahu, sama Tika kan? Bukanya dulu dia pacar
monyetmu waktu TK ya?”
“Tidak cukupkah Anda menghujani kupingku dengan pertanyaan
runcing? Sekarang hatiku teriris parah, Mah…..”
“Bukan pacar, Mah. Aku ngeceng dia dulu” Lebih baik aku
ungkap semua kenyataanya. Kepalang basah.
“Oh…. Giliranmu kapan, Van? Mamah dan Bapak sudah gak sabar pingin gendong cucu” tanyanya datar. Lagi.
“Mah, mamah kan lagi depan kompor dengan sepanci sop iga
yang mendidih tuh, Mamah guyur saja anakmu satu-satunya ini dengan sup iga
mendidih itu. Lalu cincang….” Gerutuku sambil berfantasi liar.
“Kapan ya, Mah? Aku nunggu jodoh yang sama kayak mamah, bisa
masak sop iga yang super enak” jawabku sambil berusaha memuji mamahku (dan
mengakhiri percakapan yang useless,
dan memutar balikkan topik pembicaraan)
“Berarti kamu mirip sama Bapakmu. Dulu, bapak mencari istri
dengan kriteria utama yang pintar masak. Eh… ketemu mamah dan kata dia,
mamahlah wanita paling tepat untuknya yang suka makan” Jelasnya panjang lebar.
“O….” sebenarnya aku tidak ingin mendengar cerita itu untuk
kesekian kalinya dari mulut mamahku. Ya, setiap aku memuji masakannya, cerita
“Ayah yang jatuh cinta dengan masakannya” selalu keluar dari mulut mungilnya.
Dan kini aku hanya diam mendengar semua cerita mamah tentang awal perjumpaannya
dengan bapak. Untungnya bapakku sedang tidak ada di rumah dari dua hari
kemarin. Kalau beliau ada, maka ceritanya akan semakin komplit. Dan aku harus
mendengarnya lengkap.
“Hujannya masih deras, Ovan. Kamu mau berangkat sekarang?”
Tanya mamahku sambil membereskan meja makan.
“Aku sudah kesiangan, Mah” Sudah beberapa hari ini aku
datang ke kantor telat beberapa menit. Dan bagiku itu telat sekali.
“Ovan naik angkot kok, Mah. Gak bakal basah” Ya. Sudah lama
sejak aku bermotor dan Bandung dilanda kemarau panjang, aku sudah tidak naik
angkot lagi untuk berangkat kerja atau sekedar jalan-jalan. Waktu sekali lagi
bagiku adalah harga mati. Dan angkot selalu membunuh ideologiku itu.
“Ovan berangkat dulu ya Mah…” aku selalu mencium tangan
mamahku sebelum berangkat kerja. Bagiku, ridhonya adalah ridho Tuhan (Kayaknya
itu bukan cuma bagiku, tapi bagi semua orang).
“Mudah-mudahan dapat jodoh di angkot, Van” Kata mamahku
sembari mengusap-usapkan tangannya di kepalaku.
Aku memandang wajah ibuku dengan mata menajam dan bibir
memanjang kedepan. Manyun.
Aku lintasi hujan dan seluruh rintiknya. Dingin memang, namun semuanya
sekadarnya. Cukup
Aku berhasil naik angkot jurusan Margahayu-Ledeng. Angkot
ini kebilang jarang dan laku. Susah sekali untuk menunggu angkot ini lewat depan
muka kita. Dan sekalinya lewat, kadang semua kursinya sudah penuh dengan
penumpang.
“Mau apa orang-orang ini rame-rame naik angkot. Pagi ini kan
hujan, lebih enak tidur” Khayalku berfantasi.
“Hoi… Anak muda, nah elo sendiri ngapain gerimis-gerimis gini
nunggu angkot. Lo mau tidur di angkot?” Bisik akal sehatku seakan membuatku
tersadar dan tersudut untuk ikhlas menerima kenyataan yang pahit ini.
Angkot yang aku tumpangi lumayan kosong. Mungkin supirnya
sedang ketiban sial atau memang orang-orang mendengar bisikan nuraniku beberapa
hari ini. Mungkin mereka sedang tidur terbuai hujan. Entahlah. Aku duduk di
depan, bersama pak supir yang terlihat cemberut.
“Sabar, Pak… mungkin bapa harus banyak beramal supaya
angkotnya penuh” Bisikku dalam hati
Dan angkot pun melaju dengan pelan menindas genangan air
yang terkurung lobang-lobang di tengah jalan Sukajadi. Dunia berjalan lambat,
tapi nyatanya waktu tak begitu. Ini pertanda nyata bahwa aku akan kesiangan
lagi. L A G I.
Bagiku waktu adalah detak jantung. Melambat berarti masalah. Berhenti?
Apalagi.
“Sepi kang. Tumben… hujan kali ya?” Tanya supir padaku yang
sedang sangat kesal padanya. Angkotnya ngetem
di perempatan Cemara. Berhenti cukup lama nampaknya.
Aku tak sedikit pun bergeming. Mudah-mudahan dia mengerti
bahwa aku tak sedikitpun mau mendengarkan dan memahami masalahnya. Karena aku pun
punya masalah besar sendiri. Masalah dengan waktu yang saat ini sepenuhnya ada
ditanganmu, Pak Supir…..
Di tengah kekesalanku yang berjibaku dengan diri sendiri
dalam alam bawah sadarku, tiba-tiba wanita berambut panjang setengah basah,
berkemeja pink pucat, dan jins biru muda masuk ke angkot dengan anggunnya. Dia
wanita yang cukup cantik dari segi fisik dan gesture tubuhnya. Ya…. Dia wanita idaman saya bila hanya dipandang
dari segi fisik. Bobot dan tinggi badan ideal, rambut panjang menjuntai, kulit
putih, dan…. Wangi parfumnya yang halus menyeruak ke ulu hati.
“Alhamdulillah dapet satu” Ucap sang supir memecah tatapan
kosongku pada wanita berkemeja pink pucat itu.
“Ya, Pak. Alhamdulillah ya” Jawabku datar. Ya, Alhamdulillah
karena ditengah kejengkelanku akhirnya aku bisa menemukan sosok seorang wanita
cantik di angkot ini.
“Pak, ngetemnya masih lama ya? Soalnya aku sudah telat. Ada
ujian di kampus.” Ujar seseorang dari bagian belakang angkot. Suara halus itu
milik seorang wanita. Aku tolehkan wajahku ke belakang. Ternyata suara itu
miliknya, wanita berkemeja pink pucat.
Jingga itu bagiku adalah kealfaan. Untuk hasrat yang membuncah dan
nafas yang menderu biru
Jingga itu bagiku adalah kenikmatan. Untuk cinta yang meranum dan kasih
murni yang mengunci
Entah hal apa yang wanita itu miliki hingga berhasil membuat
pak supir menjalankan lagi angkotnya. Apapun itu, sepertinya saya punya hutang
teramat besar pada wanita itu.
Daku tak bisa lepas dari pandangamu. Lekat membisu. Mataku, cermin, dan
tundukkmu saling terkait. Entah di titik mana, tapi aku yakin itu. Ia memang
ada.
Seketika angkot ini terasa sangat cepat berpindah dari satu
titik ke titik lainnya. Dunia berputar cepat dan sebentar lagi aku akan tiba di
depan kantorku. Padahal… “Aku masih ingin melihatnya, Tuhan…. Wanita berkemeja
pink pucat”
“Kiri, Pak” dan angkot pun berhenti. Aku tatap dia yang
melaju bersama angkot meninggalkanku. Aku terpaku dalam gemericik gerimis yang
masih mengakar di langit. Dia pergi tanpa sempat aku sentuh keberadaannya.
“Tuhan… izinkan hamba untuk bertemu dengannya beberapa kali
lagi”
Hujan bagiku seumpama penyampai pesan dari langit ke tanah. Dari Tuhan
untukku.
Pagi ini entah apa yang terjadi padaku. Pagi ini membuatku
terpaku dalam kesendirian. Tak ada rekan kerja dan suara supervisor memanggil-manggil namaku. Yang ada hanya wajah halus dan
warna pink pucatnya. Serta suara halus yang berhasil aku rekam dalam ingatan.
Meski hanya sesaat. Beberapa byte
saja.
“Kamu gak akan
pulang hari ini? Dari tadi bengong saja?” Suara tak asing itu memecah lamunanku
sejenak. Aku lihat jam dinding di atas kolomku sudah menunjukkan angka 5. Jam
lima tepat. Harusnya saat ini aku sudah pulang. Bagiku waktu pun adalah uang.
Tidak ada waktu lebih untuk kerjaan kecuali dibayar. Tapi sekarang??? Meski
hujan bukan rintangan, tapi…
Bagiku kamu bukan sesuatu yang harus aku hindari, hujan…. Lindungi aku
dalam derasmu, selalu.
“Kamu naik angkot lagi hari ini, Van”
“Iya, Mah”
“Kamu semangat sekali pagi ini”
“Iya dong Mah, Ovan kan mau naik angkot”
“Sejak kapan angkot jadi tempat yang menarik buatmu?”
“Sejak pagi menjadi pink pucat”
“Maksudmu??????”
“Jodohku…. Maunya ku, dirimu… sampai matiiii, hingga ajal menjemputku.
Aku dan kamu…. satu…. Saling mencinta…. Lalala…” Jawabku sambil bernyanyi
meninggalkan sejuta pertanyaan bagi mamahku yang berdiri memaku dengan muka
yang pucat pasi kebingungan.
Dua angkot sudah lewat depan mukaku yang mulai basah oleh
bulir-bulir air hujan. Mungkin kemarin hanya sebuah cerita langka yang Tuhan
berikan padaku agar aku tak lupa bersyukur pada Nya tentang betapa indahnya
hidupku ini.
“Tuhan… beri aku kesempatan seperti hari kemarin. Persis”
bisikku dalam hati.
Dan seketika doaku dikabulkan. Sebuah angkot yang tidak
asing lagi buatku berhenti di depanku. Aku duduk di bagian depan angkot bersama
supir yang kemarin berhasil membuatku jengkel. Sepasi senyuman melingkar di
mulutku. Mungkinkah semuanya akan berjalan sama seperti kemarin?
Angkotnya berjalan sangat lambat. Sama seperti kemarin.
Bedanya, penumpang dalam angkot ini mulai banyak seiring dengan berjalannya
angkot. Aku mulai gelisah. Masih adakah ruang yang pas untuk dirinya?
Dan angkot pun berhenti di perempatan Cemara. Persis seperti
kemarin.
“Alhamdulillah pagi ini mah penuh, kang” Ujar supir
disampingku dengan nada sumringah; minus wajah cemberut.
“Ya” Jawabku pendek. Gelisah.
Aku terus memandangi kaca spion retak di samping kiri
angkot. Dan…. Wanita itu ada lagi. Dia sedikit berlari memburu angkot yang
sedang aku tumpangi. Hari ini dia memakai kaos biru muda dan jaket bulu warna
pink pucat… cantiknya.
“Wah penuh ya, Pak?” Tanya wanita di luar angkot. Aku
bergegas melihat ke belakang. Ya, 13 orang sudah duduk bedempetan di bagian
belakang agkot.
“Tuhan….. Orang-orang ini gak ada satu pun yang turun di
Cemara ya?” gumamku.
“Di depan kosong, Neng” jawab Pak Supir yang terdengar
sangat cerdas dan bijaksana.
Kenapa hal yang sangat simple
dan bermanfaat ini tidak terpikirkan olehku sebelumnya.
Hatiku berdegup kencang saat ini. Apakah ini? Rasa yang tak karuan saat
berada di dekatnya. Aku asing, tapi senang.
“Permisi ya, Mas” ujarnya halus sambil membereskan lipatan
payungnya yang juga berwarna pink pucat. Kesimpulan pertamaku berdasarkan
analisis yang mendalam menyatakan bahwa wanita yang ada disampingku saat ini
adalah penyuka warna pink. Gak penting.
“Nama kamu siapa?”
“Kamu kuliah dimana? Jurusan apa?”
“Rumahnya di jalan Cemara ya?”
“Hobimu apa?”
“Warna kesukaanmu pink ya? Aku juga suka”
“Masih single?”
“Mau gak jadi pacarku?”
Ingin rasanya pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari muluku
dengan gagah dan elegannya. Tapi apa daya, aku tak punya kemampuan itu.
Keberanian tepatnya. Aku hanya diam membisu dalam derasnya hujan yang membabi
buta.
Badannya terus menerus mendesakku untuk bergerak ke kanan.
Ya. Derasnya hujan membasahi bagian kiri tubuhnya. Jendela angkot ini tak bisa
ditutup sempurna.
Gerakan tubuhnya ditubuhku membuatku makin membisu. Aku
ingin sekali menawarkan untuk pindah posisi padanya meskipun sedikit ribet. Tapi… aku hanya bisa diam.
Aroma tubuhmu telah mengunciku dalam surga. Wewangian apa yang engkau
percikkan? Bunga firdaus kah?
Waktu kali ini berkali-kali lipat lebih cepat berlalu
daripada biasanya. Aku turun dari angkot dengan jiwa yang tertinggal di angkot
itu. Dia pergi… berlalu bersamanya. Calon separuh jiwaku…
Separuh jiwaku, pergi.
Memang indah semua, tapi berakhir luka…. (Separuh Jiwa – Anang Hermansyah)
“Kamu gak mau pulang?”
Menggeleng
“Kamu kok akhir-akhir ini berubah. Murung dan kelabu”
“Efek hujan”
“Pergi sana ke dokter?”
“Kalau saja dokternya berjas pink pucat”
“Dimana-mana dokter pake jas putih, Bro”
“Namanya juga andai saja, Bro”
“Terserah, Bro”
***
Pagi ini aku terbangun dengan optimis. Gerimis masih
mengunci Bandung dalam dinginnya musim. Dan aku masih punya harapan besar
untuknya. Seorang wanita hujan berbaju pink pucat.
“Mah, Pak… Ovan berangkat dulu ya. Doakan Ovan dapet jodoh di angkot” Ujarku sambil
mencium tangan mereka.
“Amin” Sahut ibuku lugas.
Aku meninggalkan ibu dengan wajahnya yang sumringah dan
bapakku yang bingung melihat kelakuanku akhir-akhir ini.
“Ada apa dengan anak kita, Mah?” Tanya bapak pada mamah
“Entahlah, Pak”
***
Empat angkot lewat di depan muka. Dan aku masih optimis
menunggunya.
Satu lagi angkot super penuh berlalu. Raut mukaku mulai
turun.
Satu angkot yang tampak penuh terbirit-birit menuju tubuhku
yang mulai melemah benrhenti.
“Margahayu, Jang?” Tanya supir padaku. Aku anggukan kepala
dan duduk berjajar di bagian belakang angkot. Tak seperti dua hari kemarin.
Skenario mulai berubah.
Angkot berjalan sangat cepat. Meskipun dia belum hadir dalam
kelopak mataku. Dan hal yang membuatku kesal adalah angkot ini tidak sedikitpun
berhenti di perempatan Cemara. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Inginku berteriak agar waktu berhenti sejenak. Tapi nampaknya waktu tak
memiliki telinga. Terlambat berarti terlambat, dan terlalu cepat berarti
terlalu cepat.
Tak aku lihat dia. Tak aku cium lagi aroma tubunya. Tak ada
lagi gerak tubuhnya. Semuanya tak sesuai rencana. Pagi ini sungguh biasa
bagiku.
***
“Tumben kamu pulang tepat waktu? Padahal masih hujan, Bro”
“Gak ada lagi alasan buat merenung di sini”
“Oh… selama ini Lo merenung ya? Renungin apa?”
“Pink pucat”
“Apaan sih? Gua gak ngerti”
“Baguslah”
Dan aku pergi meninggalkan temanku dengan seribu pertanyaan
menyeruak.
***
“Assalamuaikum, Mah, Pak..” Pamitku pada mereka yang masih
duduk di meja makan
“Kamu naik motor kan hari ini?” Tanya mamahku dari kejauhan
“Iya” Jawabku ketus. Pagi ini tidak hujan. Berarti tidak ada
cerita tentang angkot. Tidak ada cerita tentang wanita pink pucat.
“Berarti jodohmu bukan di angkot, Nak” timpal Bapakku.
Kok Bapak bisa tahu? Aku langsung menatap tersangka utama
dibalik bocornya cerita ini. Mamahku. Dia tampak tertawa tertahan.
“Terima kasih, Mah” gerutuku dalam hati
Aku kemudikan motor. Tanpa harapan akan takdir yang
terulang.
***
“Ini daftar anak magang yang bakal magang di divisi ini”
Ujar Reno. Teman yang tak sempat aku ceritakan selama ini.
“Sekarang sebagian dari mereka sudah di depan. Lo urus
mereka ya. Mudah-mudahan ada yang nyantol” timpalnya lagi seolah meramaikan
kebisuanku.
“Tahukah kamu? Beberapa hari ini hati ini sudah terpaut. Tak
bisa terganggu lagi” Gumamku dalam sepi.
Langkah gontai menggiringku untuk melangkah ke lobby. Menyapa
anak-anak magang yang pastinya akan merepotkanku beberapa pekan ke depan.
Dan langkahku terhenti saat melihat sosoknya. Wanita dengan
blazer warna pink pucat sedang duduk di kursi lobby kantorku. Kemudian matanya
terpaut pada tatapanku. Dia tersenyum dan berujar,
“Mas yang di angkot ya?”
Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Entah apa yang terjadi
dengan takdir. Semuanya menjadi jungkir balik. Perasaan dan akalku pusing
menanggapinya.
Terpasang di dada sebelah kirinya sebuah name tag bertuliskan “MAGANG – DIVISI MARKETING”
Terima kasih, Tuhan…
Takdirmu selalu lebih indah dari harapan hamba-Mu
Namanya Rinai Ananta. Panggilannya Inay. Dia adalah
mahasiswi semester 7 jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta
di Bandung. Anaknya cukup ramah dan hangat. Karena keramahannya itu, aku sampai
tahu kalau rumahnya ternyata memang sekitaran perempatan Cemara dan warna pink
pucat memang warna kesukaannya. Bukan suka lagi, tapi tergila-gila. Dan yang ku
tangkap dari dia sejauh ini, dia adalah seorang pilatelis. Haha… akhirnya aku
bisa berkenalan dengan seseorang yang memiliki hobi aneh yang sedari SD aku
pelajari istilahnya tapi belum pernah aku berhadapan dengan orangnya. Selain
mengumpulkan ratusan perangko, dia pun suka memasak. “Tuhan… dia jodohku….” Dan
yang paling penting, dia masih single.
Kok bisa tahu? Berdasarkan hasil analisis sementaraku bersama sobatku, Reno,
Sobatku yang telah menikah dengan mantan gebetanTK-ku, Tika.
***
Hujan di bulan ini sungguh nyata. Aku bisa menyentuh keberadaannya. Ia yang
telah membawa cinta
“Gak kerasa ya sudah tiga minggu aku magang di kantormu, Mas”
Ujar seorang wanita di seberang meja makan tempatku tertegun saat ini. wajahnya
tak pernah lelah aku pandang.
“Ya.. waktu selalu bergerak cepat untuk hal-hal yang membuat
kita bahagia” Kataku lugas.
“Maksudmu?” dia tampak kebingungan
“Kamu. kamu sudah membuat waktu berjalan cepat. Kamu membuat
mas bahagia” jawabku dengan muka setngah serius, setengah datar. Waktu
tiba-tiba berhenti sejenak. Takdir tak lagi tergenggam. Lepas… tapi…
“Mau gak jadi
pacarku?” Akhirnya pertanyaan pamungkas itu bisa terucap dari mulut kakuku.
Takdir kembali kugenggam.
Dan dia pun mengangguk.
Langit senja berwaran jinggalah saksinya. Sesaat sebelum
hujan turun dan kami berlari menuju angkot.
Inilah akhirnya. Cinta datang kapan saja dan dimana saja. Percayalah,
maka kau akan merasakannya.
***
Suasana rumah menjadi berbunga. Mamah dan bapak sangat
senang karena anaknya telah menemukan seseorang itu.
“Van, setelah bapa berpikir cukup keras beberapa minggu
kebelakang. Bapak akhirnya ingat alasan bapak ngasih nama Houvan De Regen sama kamu” Tutur ayahku antusias.
“Apa, Pak?” Tanyaku sedikit penasaran. Kadar keingintahuanku
aka nasal mula nama aneh itu sebenarnya sudah menipis seiring waktu.
Mamah senyam senyum sendiri sambil membereskan piring-piring
kosong bekas makan malam kami.
“Hou van de regen itu bahasa belanda untuk Cinta Hujan”
Jelas ayahku lugas.
“Kamu lahir saat hujan deras waktu itu……” Lanjut bapak
menjelaskan asal mula nama Houvan De Regen. Tapi aku sungguh tidak peduli lagi.
Sungguh.
Dan akupun tersenyum saat Rinai mencintai hujannya.
“Namaku memang tepat, Pak” kataku halus.
“Maksudmu?” Bapak kembali bertanya. Mamah hanya tersenyum
manja.
Di luar rumahku hujan. Begitupun di tempatnya. Rinai.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar