Kamis, 30 Mei 2013
Rumah Tuhan
Hanya aku dan mungkin Tuhan yang memahami caraku untuk hidup dan bertahan dari kematian. Suasananya berbeda. Mungkin inilah yang ia janjikan. Akan ada waktunya untuk kembali ke R U M A H. Saat rindu tak lagi bisa diartikan sekedar rasa ingin bertemu saja. Tapi memang harus segera memulangkan semua jasad dan ruh tanpa sisa. Habis.
Lalu bagaimana dengan M I M P I yang mulai memadam tapi belum terwujud dalam bentuk yang wajar? Entahlah.
Aku tak bisa memaksa T U H A N untuk sekedar membuat mukjizat seperti Ibrahim yang bisa lolos dari jeratan bara api. Apa aku juga bisa selamat dari api N E R A K A? Entahlah. Hidup bagiku adalah rentetan episode balada atau mungkin sebuah opera. Panjang atau pendeknya cerita, dilanjutkan atau tiba-tiba diakhiri, tak ada kehendak pribadi atas hak itu. Jika hidupku lebih panjang, aku hanya ingin S E H A T. Itu saja.
Saat hujan meredakan kegelisahan, semuanya senyap tak berbekas. Saat itu aku hanyut menuju langit. Dimana gravitasi tak lagi menahanku lekat di bumi. M A T I.
Renungan saat tubuh memerah.
April, 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar