Jumat, 10 Februari 2012

I MISS U (PART: KALEB'S PERCEPTION)

Cerita ini merupakan sambungan dari I MISS U (PART: RINDU'S PERCEPTION)

#KALIMAT PENGANTAR#
Butuh lebih dari satu sudut pandang untuk menilai dan menggambarkan sesuatu jika memang Anda mengharapkah sebuah kenyataan - Cluesology

Langit hari ini telah memerah dan saya pun masih duduk di sini. Di depan monitor PC yang sedari pagi selalu saya tatap tanpa henti. Makin hari pekerjaan baru ini menuntut saya untuk bekerja lebih keras. Tadi pagi tiba-tiba supervisor datang ke meja saya dan memberikan saya tiga proposal proyek. Tiga buah website untuk tiga perusahaan yang berbeda dan semuanya harus selesai minggu depan. Yaナ saya sangat suka tantangan. Dan ini tantangan bagi saya. Ini hidup saya dan saya sangat menikmati hidup saya ini.

Saya coba angkat sejenak jari-jari ini dari tombol-tombol keyboard dan pijatan mouse. Sandarkan kepala dan melemaskan kaki. Memejamkan mata dan mencoba untuk tenggelam dalam kefanaan. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana saya selalu merindukan keberadaanya. Sosok yang selalu membuatkan saya secangkir kopi saat mata saya mulai berat. Sosok yang membuat saya tersenyum saat saya kehabisan ide untuk sekedar tertawa renyah. Dialah RINDU.


#FLASHBACK#
"Saya pulang dulu ya" ujar saya sambil mencabut kabel power laptop dan menggulungnya.
"Kamu kelihatan ruwet deh hari ini, ganteng. Kalau ada masalah cerita dong. Jangan kamu pendam sendiri. Dari tadi saya bingung dan kehilangan kata-kata untuk sekedar menghibur kamu karena saya sepenuhnya gak ngerti apa yang kamu rasakan dan pikirkan" serunya sembari mengusap punggung saya dan sedikit memijatnya halus. Saat itu, tubuh saya terasa dirasuki racun yang melemaskan seluruh otot. Membuatnya melayang hampa. Melupakan lara dan masalah yang mendera.
"Gak ada cantikナ Saya cuma merasa lelah dan kehabisan ide saja" Timpal saya sambil melepas gulungan kabel yang sedari tadi saya genggam. Saya sandarkan kepala di bahu lemahnya. Saya bermanja didekapnya. Memandangi wajahnya yang indah. Takjub sekaligus tersadar bahwa saya adalah lelaki beruntung yang bisa mendapatkan hati wanita secantik dan seanggun dia.

"Rindu... I Love U" Bisik saya lirih padanya
"Love U too, Kalebku" Jawabnya dengan nada yang sangat manis.
Sejenak kami terdiam membuang waktu. Mereguk damai dan memenjarakan gerakan rotasi bumi. Apakah hal yang saya pikirkan sama dengan apa yang dia pikirkan? Apakah dia merasa seberuntung saya saat saya memiliki hatinya?

"Aku puny ide" serunya sambil sedikit berteriak tertahan. Membangunkan saya dari palung mimpi sesaat. Membuncahkan ion yang kembali tersalur melalui sistem syaraf dan membuat mata saya kembali terbelalak. Saya tersenyum. Wajahnya masih berada di dekat saya. Cantik.
"Ide buat web saya?" Tanya saya masih dengan nada malas
"Ide yang bisa membuatmu kembali mempunyai ide" jawabnya riang
"...."
"Ayo ikut saya keluar dari kemalasan dan kebuntuan ide. Saya rasa alam akan memberi inspirasi dengan caranya sendiri" Ajaknya sambil berusaha membangkitkan tubuh besar saya dan menuntun tangan saya untuk pergi keluar. Dia terlihat sangat antusias menggiring saya keluar dari keadaan ini. Hal apa lagi yang saya harapkan dari dia? Dia memberi saya segalanya.

"Akhirnya sampai juga, bagaimana menurutmu tempat ini?" tanyanya sembari menunjukkan muka riang dan berharap ada jawaban positif dari saya.
"Saya rasa tempat ini biasa saja. Danau kecil dengan air yang sedikit keruh dan tidak terlalu bersih. Beberapa sampah plastik dan guguran daun melayang-layang di atasnya. Terlihat sedikit spooky karena sedikit gelap. Pohon rindang dan alang-alang tinggi tak terawat seakan membuatnya tersembunyi. Intinya biasa saja" gerutu saya dalam hati
"Bagus" Jawab saya sedikit berhiperbola untuk menghargai usahanya

"Ayo sini duduk" ajaknya sambil melambaikan tangannya. Menyuruh saya untuk duduk di sampingnya. Duduk di bangku sederhana yang terbuat dari bambu yang berlumut disana-sini. Dan saya pun duduk di sampingnya. Duduk di samping wanita terindah yang sempat Tuhan ciptakan.
"Danau ini sebetulnya indah. Mungkin hanya sebagian orang yang berpikiran seperti itu, termasuk saya. Saya tidak tahu apa yag ada dipikiranmu saat ini" Jelasnya seakan tahu apa yang saya pikirkan

"Kadang keindahan tertutup oleh hal-hal yang membuatnya kurang indah terlihat. Sampah plastiklah, lumut dimana-manalah, rumput liar yang tidak terawatlah, limbah rumah tanggalah. Semua hal itu seakan menutupi kecantikkan danau ini. Dan parahnya, orang seakan hanya memberi tekanan pada hal-hal itu. Bukan pada keindahan yang seharusnya menjadi tiik acuan kita dalam menilai. Di tempat ini saya bisa merasakan kesendirian, menghirup udara yang belum terkontaminasi saat apa yang saya hirup langsung keluar dari pohon-pohon rindang di sekitar saya , mendengar kicau burung dan bunyi tonggeret. Sangat indah dan saya selalu takjub" Jelasnya panjang lebar sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh saya. Dan tahukah apa yang saya alami saat ini? Saya kembali teracuni, dia membuat saya lemas.

"Tuhan menciptakan kita lengkap dengan organ otak yag maha dasyat. Otak manusia yang beratnya kurang lebih 2 kg masih banyak menyimpan rahasia yang belum terkuak. Sel-sel saraf di otak manusia jika direntangkan akan mempunyai panjang beribu-ribu kilometer. Sedangkan jumlah sel-sel saraf di otak berjumlah paling sedikit 100 miliar. Seluruh sel otak satu sama lain saling berhubungan, jalin-menjalin, membentuk jaringan yang bisa memengaruhi satu dengan lainnya. Membuat kita menjadi mahkluk hidup dengan tingkat kecerdasan paling tinggi. Sebenarnya kita punya milyaran bibit ide yang terkadang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dengan gampang kita berkata bahwa saya sedang kehabisan ide. Itu bukan intinya. Intinya adalah bagaimana kita harus menyingkirkan hal-hal yang mengekang ide kita. Temukan itu dan kamu akan menemukan ide itu. Keindahan tak selalu tampak, kalebku" paparnya tajam dan penuh penekanan. Dia selalu seperti itu. Bijak.

"Jadi itu maksudmu membawa saya ke tempat yang bagus ini?" saya bertanya sambil membuka sebelah mata saya
"Itu salah satunya" Jawabnya singkat
"Tujuan intinya, saya ingin merasa dekat dengan kamu, hanya kamu dan saya. Karena saya tidak tahu pasti, kapan kamu akan mempunyai waktu seluang ini saat kamu sudah bekerja di Jakarta" Lanjutnya sambil mengangkat kepalannya dan memandang saya tajam
"Cantik, jangan selalu berkata seperti itu. Saya masih punya ribuan hari untuk kita habiska berdua. Berdua saja, kamu dan saya" jelas saya sembari mengangkat kedua tangannya dan mengecupnya.

Sekali lagi kami berusaha menghentikan putaran waktu. Mengekang bumi untuk tidak berotasi. Membisukan angin dan membuatnya pasif. Hanya ada saya daan kamu. berdua.
#END OF FLASHBACK#

"Gue sama temen-temen mau clubbing ntar malam, Loe mau ikut?" ajak Randy, teman saya. Sebagai anak baru, saya belum mengerti kebiasaan teman-teman baru saya. Terkadang saya merasa risih dengan perubahan lengkap dengan segelintir perbedaannya. Beberapa bulan lalu saya masih menyandang predikat mahasiswa. Dan kebetulan saya hidup di lingkungan teman-teman mahasiswa yang orientasinya hanya untuk belajar. Main bagi kami hanya sebuah kegiatan refreshing. Refreshing yang menurut kami tidak harus dilakukan setiap waktu. Sangat jauh berbeda dengan apa yang saya alami saat ini. Bergaul dengan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai para eksekutif muda yang mapan sebelum waktunya, membuat mereka berpikir bahwa mereka bisa membeli semua kesenangan yang dunia tawarkan hanya dengan uang yang mereka miliki. Hedonisme.

"Kayaknya gak bisa , Om. Gue harus lembur malam ini. Ada tiga proyek besar yang harus gue kerjain. Lagian besok pagi Gue mau pulang ke Bandung" Tolak saya halus
"Payah Loe. Loe dah tiga kali nolak ajakan buat clubbing. Ini Jakarte sob. Jangan sibuk mikirin kerjaan mulu. Lihat dunia sekitar yang bakal ngasih Loe kenikmatan. Ntar skalian Gue kenalin ma mantan-mantan cewek Gue, mana tahu Loe berminat" Jelasnya dengan aksen batak seakan memaksa saya untuk merubah pikiran. Satu hal yang saya pikirkan saat ini. Inilah tipe orang yang ingin terlihat metropolis meskipun nada aksen daerahnya masih kental terdengar. Kontras.

"Sorry, Om. Lain kali aja. Thanks juga buat tawaran ceweknya, tapi Gue dah punya cewek"
"Ya... Wanita terindah yang sempat Tuhan ciptakan" (Not On Conversation)

#POEM#
Cinta itu bukan sekedar kata-kata
Cinta itu adalah menolak godaan
Cinta itu adalah teguhnya pendirian
Cinta itu adalah pengukuhan kesetiaan


@KOSAN, Permata Indah - Jakarta Selatan (Malam hari)
Jam 9 malam saya baru tiba di kosan. Lelah dan lesu membuat saya tergolek di kursi sudut ruangan sempit ini. Ingin rasanya saya segera terlelap dan bangun keesokan harinya. Ya, besok adalah waktu yang saya harapkan datang lebih cepat. Saya sangat ingin bertemu dengan dia. RINDU.

CALLING
RINDU

"Hallo ganteng" tegur dia manja. Saya sangat bahagia mendengar suaranya. Tapi entah kenapa, hari ini saya lebih berminat untuk tidur dan beristirahat.
"Iya ..." Jawab saya lemas. Seluruh indera di dalam tubuh saya seakan tak berfungsi dengan benar. Lemas.
"Kamu sudah pulang kerja kan? Saya gak ganggu kamu kan?" Tanya dia beruntun. Tahukah kamu, saya sedang malas bicara saat ini. Saya lelah.
"Sudah" Jawab saya berusaha mengumpulkan keping-keping kesadaran
"Besok jadi pulang ke Bandung kan?" Tanya dia.
Kami terdiam. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut kami. Saat ini saya hanya ingin menjadi pendengar yang baik.
"Saya capek ナ Bicara panjang lebarnya kita lanjutkan besok ya pas ketemu" Seru saya seakan memecah kesunyian. Ya, kami punya ribuan detik untuk kami habiskan bersama besok secara langsung. Lebih indah dan efektif ketimbang pembicaraan melalui telepon.
"Kapan kamu mau menemui saya?" Tanya dia seakan tidak mengerti apa yang saya alami saat ini. Kelelahan.
"Besok" jawab saya sekenanya
"Maksud saya jam berapa?" Tanya dia lagi. Kali ini saya simpulkan bahwa dia memang tidak mengerti apa yang sedang saya rasakan. Kesuntukkan.
"Ya pokoknya besok. Hehe" Jawab saya singkat. Mudah-mudahan dia mengerti apa yang saya inginkan saat ini, menutup pembicaraan dan istirahat.
"Ok, selamat malam" serunya. Mudah-mudahan dia benar-benar mengerti. Bukan malah marah dan berprasangka buruk tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Cantik, apapun yang kamu pikirkan sekarang, saya sayang kamu. saya masih seperti Kaleb yang kamu kenal" teriak saya dalam hati. Dan saya pun tertidur di kursi. Lelah.

#POEM#
Tahukah kamu saat saya sedang merindu?
Saya tasbihkan namamu di setiap detik yag saya lewati
Apakah kamu merasakannya?
Mungkin tidak
Karena rindu itu mengalir di dimensi yang berbeda, dimensi dimana saya berada
Saya merindukanmu dengan cara saya sendiri
Dan kamu tak harus selalu tahu itu


@ KOSAN, Permata Indah - Jakarta Selatan (Pagi hari)
Hari ini sangat cerah. Lelah seakan pergi jauh dari raga ini. Menghablur bersama waktu. Mengembun menjadi titik-titik pencerahan. Beberapa jam lagi saya akan bertemu dengan dia. Saya akan menemui kekasih saya. RINDU.

Selesai mandi dan kini saatnya mengepak barang-barang yang harus saya bawa. Saya menyiapkan sesuatu yag spesial untuknya. Apakah saya harus memberi tahu bahwa saya akan berangkat sekarang juga? Ya, tentu saja. Dia benci ketidakpastian bukan? Saya raih HP di ujung meja. Menyempatkan waktu untuk sekedar mengirim pesan padanya, tapi tiba-tiba...

CALLING
OFFICE

"Hallo pak Kaleb maaf mengganggu" seru seorang wanita di ujung telepon
"Iya bu, tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya saya penasaran
"Ada salah satu cabang yang bermasalah dengan sistem informasinya dan membutuhkan penanganan segera. Bisakah Anda masuk kantor pagi ini? Beberapa rekan Anda tidak bisa kami hubungi. Big Boss meminta saya untuk menelepon Anda" jelasnya sangat terburu-buru. Saat iu saya sangat bingung. Apa yang harus saya katakan. Mungkinkah saya jawab "tidak"? Dimana letak loyalitas saya sebagai karyawan? Mungkinkah saya jawab "baiklah"? Dimana loyalitas saya sebagai pacar?
"Big Boss sangat marah kepada karyawan-karyawan yang tadi susah sekali untuk dihubungi" timpalnya seakan menakuti saya
"Termasuk si Randy ya bu?" Tanya saya penasaran
"Iya, U know lah. Hari sabtu si Randy gak mungkin bangun pagi setelah semalaman pergi clubbing" jawabnya seakan tahu kebiasaan Randy.
"Dia pemalas. Karyawan baru yang layak untuk tidak dipertimbangkan perpanjangan kontraknya" Jelasnya ketus.
"What? Apakah Anda juga akan berpikir seperti itu saat saya menolak permohonan ini?" (Not on Conversation)

"Baik, Bu. Saya akan tiba di kantor 15 menit lagi" inilah keputusan saya. Mudah-mudahan Rindu mengerti. Mungkin hari ini saya tidak bisa bertemu dengannya, tapi lain kali, saya pastikan kalau saya pasti datang menemuinya.

Dan saya pun seperti kebakaran jenggot. Mengganti pakaian secepatnya dan langsung menutup pintu. Saya tidak sedikitpun melupakannya, saya hanya menundanya sesaat.
Mudah-mudahan kamu paham. RINDU.

@KOSAN, Permata Indah - Jakarta Selatan (Malam hari)
Saya tiba kosan dengan bibir mengembang. Hari ini Big Boss memberi saya pujian. Dia puas dengan kinerja saya hari ini. Dia pun memuji loyalitas saya sebagai karyawan.

#FLASHBACK#
"Loyalitas kamu patut untuk diacungi jempol" serunya sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Dia ternyata hangat, tidak sedingin yang orang bicarakan.
"Makasih pak" jawab saya masih dengan sedikit irama formal
"Mudah-mudahan loyalitas kamu terhadap pekerjaan berbanding lurus dengan loyalitasmu terhadap pacar kamu, kamu sudah punya pacar kan?" tanyanya ringan. Pertanyaan yang seakan meleburkan keformalan. Kebuntuan bahasa.

"Iya pak, cewek saya tinggal di Bandung. Rencananya tadi pagi saya berangkat ke Bandung. Tapi mungkin urusan pekerjaan saat ini lebih mendesak" jawab saya dengan irama yang mulai hangat.
"Wah ... kasihan pacar kamu. Tidak masalah sebenarnya. Kekecewaan pasti ada, Tapi sebagai laki-laki kamu harus siap menghadapinya. Bayarlah kekecewaan itu dengan sesuatu yang akan membuatnya merasa terbayar. Saya pastikan besok tidak ada pekerjaan mendadak untuk kamu. Saya jamin" Jelasnya sambil menjabat tangan dan menepuk bahu saya.

Apa yang beliau katakan sangat benar. Saya harus berusaha membayar semua kekecewaannya hari ini. Pasti.
#END OF FLASHBACK#

Kembali duduk lemas di kursi sudut ruang kecil ini. Berpikir keras tentang apa yang harus saya lakukan untuk menebus lunas hari ini? Dan tiba-tiba mata saya tertuju pada satu benda yang berada di ujung meja. Saya lihat HP itu mati. Ya, saya lupa membawa HP itu dan membiarkannya mati karena habis baterai. Pasti Rindu sangat khawatir. Pasti dia marah. Dia wanita yang sangat benci ketidakpastian.

#SONG#
I MISS YOU - Beyonce


I thought that things like this get better with time
But I still need you, why is that?
You're the only image in my mind
So I still see you, around

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
Said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same

Words don't ever seem to come out right
But I still mean em, why is that?
It hurts my pride to tell you how I feel
But I still need to, why is that?

I miss you, like everyday
Wanna be with you, but you're away
I said I miss you, missing you insane
But if I got with you, could it feel the same

It don't matter who you are
It's so simple, a feeling
But it's everything no matter who you love
It is so simple, a feeling
But it's everything


to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar