Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi. Berteman
deru ombak dan pasir yang luas tak terbatas, pikirku. Aku tak pernah menampik
adanya perjalanan menembus waktu. Tapi hal itu hampir mustahil. Seperti rintik hujan
yang kembali ditarik langit. Mengesankan.
Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi.
Berteman lapangan tembaga di atas kepala yang tak berbatas, pikirku. Aku tak
pernah berusaha membuktikan kalau hal ini hanyalah mimpi. Namun itu hampir
mustahil. Seperti seseorang yang mengulur waktu kematian. Menakjubkan.
Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi. Berteman
hembusan angin, salam dari seberang pulau yang jauh tak terkira, tandasku. Aku tak
pernah mencoba untuk mencari keberadaanku. Namun kau akan datang, pasti. Seperti
segelas air yang ingin bersanding mesra dengan api. Memilukan.
Tiba-tiba. Suatu sore Engkau datang mengejutkanku dari
belakang. Di sebuah pantai yang tenang dan terang. Kau tampak santai memandang
sekitar. Dan aku hanya takjub karena inilah kali pertama aku melihatmu lagi. Sosok
yang dulu aku rindukan kedatangannya. Tapi, akhir-akhir ini engkau hanyalah
sebuah kenangan. Dan seperti kemarau panjang yang bertemu dengan hujannya, aku
tak enggan untuk berpijak kembali di bumimu. Sebuah tangan menjulur mendekati
tangannya yang dulu selalu aku jamah. Namun apa yang terjadi? Engkau tak bisa
terpegang lagi.
Tiba-tiba. Suatu sore tak ada percakapan tercipta. Hanya aku
yang melakukan monolog panjang. Menceritakan kita dan masa lalu yang tak bisa
aku pastikan bahwa engkau masih mengingatnya lengkap. Biar aku yang akan
memaparkannya lagi. Semuanya tanpa tetapi. Engkau hanya terlihat mengangguk dan
sesekali tersenyum. Tanpa kata. Dan aku hanya bisa mengelus dada.
Tiba-tiba. Suatu sore tak ada kenyataan yang terangkum. Aku mengerti
bahwa waktu tak bisa aku tembus. Bahkan mimpi tak akan pernah menjadi
kenyataan. Dan kamu tak akan bisa kembali tersentuh. Kamu adalah kenangan. Tentang
pagi dan pantai yang terkunci mati. Aku tak mungkin kembali ke tempat itu. Semua
hanya kenangan tentang debur ombak, langit senja yang menua, desau angin, dan
percakapan hangat antara aku, kamu, dan pantai senyap.
“Pernah engkau berujar
tentang hari esok. Bahwa ia akan terjamin pasti. Bahagia. Dan engkau ada di
dalamnya. Bahkan tak hanya satu hari mendatang, engkau akan senantiasa berada
dalam keseharian. Dan aku hanya mengangguk percaya. sepercaya aku pada
perjalanan nabi yang menembus tujuh lapisan langit hanya dalam satu malam. Dan saat
itu adalah aku yang paling bodoh. Menerima hal yang tak masuk akal. Karena aku
tahu suatu saat engkau akan pergi secepatnya. Bahkan lebih cepat daripada satu
malam yang lumayan panjang. Engkau adalah bagian nyata dari khayalan panjangku.
Engkau adalah rasa pahit dalam larutan gula pada teh lemon yang selalu aku
nikmati keasamannya. Engkau adalah kepastian dalam setiap langkah ragu hidupku.
Hidupmu adalah perwujudanku dulu. Dan kini aku mengerti. Engkau hanyalah
seorang pecundang. Pecundang termanis yang pernah aku miliki. Dan kini engkau
terkenang selamanya. Dalam sebuah memoar kecil tentang aku, kamu, dan pantai
senyap ini”
"Pastilah engkau seorang seniman, memandangi pantai sebegitu mesranya"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar