Jumat, 04 Oktober 2013

MONOLOG: AKU, ENGKAU, DAN PANTAI SENYAP ITU



Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi. Berteman deru ombak dan pasir yang luas tak terbatas, pikirku. Aku tak pernah menampik adanya perjalanan menembus waktu. Tapi hal itu hampir mustahil. Seperti rintik hujan yang kembali ditarik langit. Mengesankan.

Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi. Berteman lapangan tembaga di atas kepala yang tak berbatas, pikirku. Aku tak pernah berusaha membuktikan kalau hal ini hanyalah mimpi. Namun itu hampir mustahil. Seperti seseorang yang mengulur waktu kematian. Menakjubkan.

Tiba-tiba. Suatu sore aku berada di sebuah pantai nan sepi. Berteman hembusan angin, salam dari seberang pulau yang jauh tak terkira, tandasku. Aku tak pernah mencoba untuk mencari keberadaanku. Namun kau akan datang, pasti. Seperti segelas air yang ingin bersanding mesra dengan api. Memilukan.

Tiba-tiba. Suatu sore Engkau datang mengejutkanku dari belakang. Di sebuah pantai yang tenang dan terang. Kau tampak santai memandang sekitar. Dan aku hanya takjub karena inilah kali pertama aku melihatmu lagi. Sosok yang dulu aku rindukan kedatangannya. Tapi, akhir-akhir ini engkau hanyalah sebuah kenangan. Dan seperti kemarau panjang yang bertemu dengan hujannya, aku tak enggan untuk berpijak kembali di bumimu. Sebuah tangan menjulur mendekati tangannya yang dulu selalu aku jamah. Namun apa yang terjadi? Engkau tak bisa terpegang lagi.

Tiba-tiba. Suatu sore tak ada percakapan tercipta. Hanya aku yang melakukan monolog panjang. Menceritakan kita dan masa lalu yang tak bisa aku pastikan bahwa engkau masih mengingatnya lengkap. Biar aku yang akan memaparkannya lagi. Semuanya tanpa tetapi. Engkau hanya terlihat mengangguk dan sesekali tersenyum. Tanpa kata. Dan aku hanya bisa mengelus dada.

Tiba-tiba. Suatu sore tak ada kenyataan yang terangkum. Aku mengerti bahwa waktu tak bisa aku tembus. Bahkan mimpi tak akan pernah menjadi kenyataan. Dan kamu tak akan bisa kembali tersentuh. Kamu adalah kenangan. Tentang pagi dan pantai yang terkunci mati. Aku tak mungkin kembali ke tempat itu. Semua hanya kenangan tentang debur ombak, langit senja yang menua, desau angin, dan percakapan hangat antara aku, kamu, dan pantai senyap.


“Pernah engkau berujar tentang hari esok. Bahwa ia akan terjamin pasti. Bahagia. Dan engkau ada di dalamnya. Bahkan tak hanya satu hari mendatang, engkau akan senantiasa berada dalam keseharian. Dan aku hanya mengangguk percaya. sepercaya aku pada perjalanan nabi yang menembus tujuh lapisan langit hanya dalam satu malam. Dan saat itu adalah aku yang paling bodoh. Menerima hal yang tak masuk akal. Karena aku tahu suatu saat engkau akan pergi secepatnya. Bahkan lebih cepat daripada satu malam yang lumayan panjang. Engkau adalah bagian nyata dari khayalan panjangku. Engkau adalah rasa pahit dalam larutan gula pada teh lemon yang selalu aku nikmati keasamannya. Engkau adalah kepastian dalam setiap langkah ragu hidupku. Hidupmu adalah perwujudanku dulu. Dan kini aku mengerti. Engkau hanyalah seorang pecundang. Pecundang termanis yang pernah aku miliki. Dan kini engkau terkenang selamanya. Dalam sebuah memoar kecil tentang aku, kamu, dan pantai senyap ini”

"Pastilah engkau seorang seniman, memandangi pantai sebegitu mesranya"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar